Opini Tulisan

Ketika Kriteria Anak dan Orang Tua Tak Lagi Sama (2)

“Nak, Umik ingin menantu yang sholehah. Kalau bisa lulusan pesantren. karena kalau sudah santri, Insya Allah karakternya sudah terjamin. Apalagi kalau wanita itu hafidzoh. Yang sudah hafal al-qur’an. Subhanalloh… umik ingin keturunan umik terjamin kualitas agamanya.”
Apa yang kalian rasakan jika membaca kalimat itu?
Di tulisan sebelumnya, saya membahas dari sudut pandang lelaki jika disodorkan kalimat pernyataan tersebut. Dan kali ini saya mencoba untuk menulis dari sudut pandang wanita tentang kalimat tersebut. Silahkan apabila ada yang pro atau kontra, langsung saja tinggalkan jejak komentar di bawah yes.
Untuk wanita, mungkin ada dari kalian yang beranggapan kriteria tersebut wajar saja. Mungkin pula dan pasti ada yang menganggap kriteria tersebut terlalu memaksa kehendak. Sehingga terkesan terlalu tinggi.
Bukankah lelaki berhak memilih? Dan wanita adalah pihak yang menentukan pilihan? Ataukah sebaliknya?
Silahkan dijawab dalam hati kalian masing-masing sesuai keyakinan hati. ehh… enggak ding! Maksudnya sesuai dengan pengalaman pribadi.
Disinilah Wanita dituntut untuk memantaskan diri dan harus pintar-pintar memilih lelaki yang terbaik dari beberapa lelaki yang datang kepadanya. Dan pilihan yang membingungkan wanita adalah ketika ia dipilih menjadi salah satu menantu idaman bagi orang tua, namun si Anak tidaklah setuju. Ia harus rela diombang-ambingkan oleh keputusan Orang tua lelaki yang sudah memilihnya dan keputusan si Lelaki tersebut. Karena lagi, kriteria anak dan orang tua tidak sama.
Wanita bisa saja menunggu lama dengan Istikharahnya. Tapi wanita tidak bisa menunggu jika terlalu lama. Karena pasti, satu wanita bisa saja masuk pada kriteria banyak orang tua lelaki.
Sebenarnya tidak salah jika Orang tua menentukan suatu kriteria. Karena tujuan mereka tetap baik. Mereka menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Lantas kalau sudah begini, siapa yang harus mengalah? Dan siapa yang harus menang? Tidak! Ini bukan tentang perlombaan kriteria siapa yang harus dipertahankan. Ini bukan tentang ego siapa yang harus dikedepan-kan. Ini adalah tentang perasaan anak orang yang diperebutkan.
Yang paling penting dari sini adalah sama-sama kita memantaskan diri untuk kedepannya. Karena perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik. Dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). (Q.S. An-nur, 26). Yuk menjadi baik!

Bagikan Postingan Ini! 😊

Tentang Kontributor

Retno fiorenzah

masih ingin istiqomah menulis untuk kebaikan