Review Buku

Catatan Buku: Muhammad Prophet For Our Time | Karen Armstrong

Karen Armstrong

Muhammad Prophet For Our Time

Mizan Media Utama (Mmu), Bandung Edisi Baru (Edisi Ke-2) 2013

 

  1. Tentang kaum yang lemah (Halaman 72-73)

Muhammad mengamati bahwa banyak pengikutnya berasal dari kelas yang lebih rendah. Sejumlah besar adalah perempuan, beberapa orang yang telah dibebaskan, para pelayan, dan budak. Yang paling terkemuka di antaranya adalah Bilal, seorang Habsyah dengan suara yang luar biasa lantang. Ketika kaum Muslim berkumpul untuk sembahyang bersama di Haram, Muhammad mendapati dirinya dikelilingi oleh “para pemuda dan orang-orang lemah kota itu”.[1]Muhammad menyambut mereka dengan hangat ke dalam kelompok kecilnya, tetapi beliau tetap bertanya-tanya bagaimana sebuah pergerakan oleh orang-orang pinggiran seperti ini bisa berhasil. Bahkan, sebagian dari tetua Quraisy, yang masih belum tahu apa-apa tentang wahyu tersebut, telah mulai bertanya mengapa beliau berkumpul dengan kaum lemah seperti itu.

Tidak semua orang “lemah” itu tak berdaya; “lemah” di sini lebih bermakna status-kesukuan yang rendah daripada kemiskinan.

 

  1. Al-Quran yang undangan sadar sendiri (Halaman 79)

Dalam setiap surat awal, Tuhan berbicara intim kepada individu, kerap cenderung untuk memaparkan ajaran-ajaran-Nya dalam bentuk pertanyaan—“Tidakkah kau mendengar?” “Apakah kau pikirkan?” “Pernahkah kau melihat?” Setiap pendengar, dengan demikian, diundang untuk menanyai diri mereka masing-masing.

 

  1. Islam sebagai solusi atas masalah waktu itu (Halaman 83)

Pertama, mereka berkumpul untuk menunaikan shalat: sujud mereka yang khusuk akan menjadi pengingat harian akan kondisi sejati mereka. Shalat menginterupsi kesibukan mereka yang lazim dan membantu mereka untuk mengingat bahwa Allah adalah prioritas pertama mereka. Sangat sulit bagi pria dan wanita yang dididik dalam etos muruwah untuk menundukkan diri bagai budak, dan banyak di antara kaum Quraisy yang merasa tersinggung dengan postur merendah ini. Gerakan dalam shalat mengajarkan tubuh mereka pada tingkatan yang lebih dalam daripada rasional agar menyisihkan semua dorongan diri untuk berbangga dan bergaya arogan.

Kedua, anggota-anggora komuntas Muslim dituntut untuk memberikan sebagian dari penghasilan mereka sebagai derma kepada orang miskin. Zakat (pemberian yang menyucikan) ini mencabut egotism dari kedermawanan gaya Badui yang sudah tertanam sejak lama; alih-alih mempertontonkan liberlitas mereka yang ceroboh dan berlebihan, mereka memberikan sumbangan pada jangka waktu tertentu dan secara tidak dramatis kepada anggota-anggota suku yang lemah.

[1] Dicatat oleh sejarahwan abad ke-7 asal Makkah, Ibn Shifan Al-Zuhri, yang dikutip dalam W. Montgomery Watt, Muhammad at Mecca (Oxford, 1953), 87.

Bagikan Postingan Ini! 😊

MASUK / DAFTAR

Mulailah Berkarya!
Lupa Kata Sandi? Klik Disini atau Buat Akun Baru
=
Masuk dengan akun lain

Video Kontributor

Media Patner

Hosting Unlimited Indonesia




Note:

Sebagian hasil dari penggunaan layanan dan produk Starla Education akan didonasikan untuk LKSA/Panti Asuhan Roisus Shobur. | Kamu juga bisa ikut langsung berdonasi melalui kitabisa.com/pesantrensosial