Review Buku

Catatan Buku: Pemikiran-Pemikiran Yang Membentuk Dunia Modern (Dari Machiavelli – Nietzsche) Budi Hardiman

Pemikiran-Pemikiran Yang Membentuk Dunia Modern (Dari Machiavelli – Nietzsche)

  1. Budi Hardiman, Jakarta, Pt. Gelora Aksara Pratama (Erlangga), 2011.

 

  1. Petunjuk berfilsafat (hal. xiii)

Belajarlah menjadi ‘pemula’, yakni: pemula dalam segala hal termasuk pemula dalam mengetahui hidup ini. Hanya mereka yang merasa pemula dapat merasa heran bahwa dunia ini ada, mereka ada, Tuhan ada, dan seterusnya. Menjadi pemula dalam segala hal berarti melihat segalanya seolah-olah untuk pertama kalinya melihat, maka reaksi yang muncul adalah keheranan. Milikilah pandangan ‘mata anak’ yang hera melihat segala hal. filsafat bermula dari rasa heran macam ini.

  1. Modern (hal. 2-3)

Istilah modern berasal dari kata Latin ‘moderna’ yang artinya ‘sekarang’, ‘baru’ atau ‘saat ini’ (Jerman: Jetztzeit). Atau dasar pengertian asli ini kita bisa mengatakan bahwa manusia senantiasa hidup di zaman ‘modern’, sejauh kekinian menjadi kesadarannya. Banyak ahli sejarah menyepakati bahwa sekitar tahun 1500 adalah hari kelahiran zaman modern di Eropa. sejak itu, kesadaran waktu akan kekinian muncul di mana-mana. Lalu, pernyataan ini tidak menyiratkan bahwa sebelumnya orang tidak hidup di masa kini. Lebih tepat mengatakan bahwa sebelumnya orang kurang menyadari bahwa manusia bisa mengadakan perubahan-perubahan yang secara kualitatif baru. Oleh karena itu, ‘modernitas’ bukan hanya menunjuk pada periode, melainkan juga suatu bentuk kesadaran yang terkait dengan kebaruan (Inggris: newness). Karena itu, istilah perubahan, kemajuan, revolusi, pertumbuhan, adalah istilah-istilah kunci kesadaran modern. Pemahaman tentang modernitas sebagai suatu bentuk kesadaran itu lebih mendasar daripada pemahaman-pemahaman yang bersifat sosiologis ataupun ekonomis. Dalam pemahaman-pemahaman terakhir ini orang menunjuk tumbuhnya sains, teknik, dan ekonomi kapitalistis sebagai ciri-ciri masyarakat modern. Berbeda dari pemahaman-pemahaman sosiologis dan ekonomis, pemahaman kita di sini bersifat epistemologis: Yang kita minati bukan berubahan institusional sebuah masyarakat, melainkan perubahan bentuk-bentuk kesadaran atau pola-pola berpikirnya (filsafat).

Sebagai bentuk kesadaran, modernitas dicirikan oleh tiga hal, yaitu: subjektivitas, kritik, dan kemajuan. Subjektivitas artinya manusia menyadari dirinya sebagai pusat realitas yang menjadi ukuran segala sesuatu.

  1. Renaisans dan Reformasi (hal. 10-11)

Renaisans dan Reformasi dapat dipandang sebagai gerakan-gerakan yang sejalan yang sama-sama melahirkan masyarakat modern ini.

Jika Renaisans dengan humanismenya merupakan gerakan elite intelektual, Reformasi adalah gerakan massa. Renaisans adalah gerakan kebudayaan, sedang Reformasi adalah gerakan teologis dan politis. Marthin Luther (1483 – 1546) bisa dianggap sebagai pemicu letusan gerakan missal ini. Yang dilakukan Luther pada mulanya adalah protes atas ulah seorang teolog bernama John Tetzel. Orang ini mengusahakan uang bagi Paus Leo X dan uskup Magdeburg dengan mengkhotbahkan hukuman neraka yang bisa dikurangi dengan membeli surat aflat.

Jika Renaisans dan Reformasi pada pasukan yang sama untuk menghancurkan sistem kekuasaan Abad Pertengahan, keduanya berbeda dalam caranya. Karena perbedaan cara ini, keduanya member pengaruh yang berbeda terhadap filsafat modern. Perbedaan pokok keduanya terletak pada pemahaman subjektivitas modern itu sendiri. Kalau humanism memahaminya sebagai kemampuan itu sendiri, Reformasi memahaminya sebagai iman subjektif.

  1. Negara dan Agama—Niccolo Machiavelli (1469-1527), (hal. 16)

Di zaman Abad Pertengahan, Negara berada di bawah dominasi kekuasaan rohani gereja katolik yang dipegang oleh Paus, sehingga kaisar pun diangkat oleh Paus. Model kekuasaan macam ini, pada zaman Renaisans, mulai mengalami krisis. Gagasan Machiavelli menegaskan bahwa Negara jangan sampai dikuasai agama. Sebaliknya, menurutnya, Negara harus mendominasi agama, seperti yang berlangsung di dalam kekaisaran Romawi kuno, saat agama Kristen diatur Negara. Dengan pendapat ini, dia tidak ingin mengatakan bahwa agama tidak penting. Dia memang menganggap ajaran-ajaran moral dan dogma-dogma agama pada dirinya tidak begitu penting, tetapi semua yang ada dalam agama, termasuk yang kurang penting itu, ternyata memiliki fungsi untuk mempersatukan Negara. Jadi, bagi Machiavelli, agama punya segi pragmatis untuk mengintegrasikan Negara. Agama, karena itu, juga dapat mendukung patriotism dan memperkuat pranata-pranata kebudayaan.

  1. Tentang moral pemimpin Machiavelli (hal. 17-18)

Di abad pertengahan, para pemikir mengagungkan manusia sebagai citra Allah. Pandangan ini tidak disetujuinya. Menggoyang anggapan lazim itu, dia memandang manusia sebagai suatu makhluk yang dikendalikan oleh kepentingan diri. Manusia adalah makhluk irasional yang tingkah-lakunya diombang-ambingkan oleh emosi-emosinya. Kalau keadaan manusia semacam itu, menurut Machiavelli, seorang penguasa harus bisa membentuk opini umum yang bisa mengendalikan tingkah-laku warganya. Karena itu, untuk memperkokoh kekuasaan, penguasa harus mampu memobilisasi nafsu-nafsu rendah mereka yang ingin dikuasainya demi maksud-maksudnya sendiri.

Dalam rangka dominasi itulah, menurut Machiavelli, seorang penguasa tidak perlu memperhatikan pertimbangan-pertimbangan moral. Penguasa bisa saja bertindak sangat moralistis, misalnya menunjuk kemurahan hati, sikap saleh, manusiawi, jujur, tetapi semua ini harus berfungsi untuk masud-maksudnya. Kalau keadaan menuntut, demi kekuasaannya juga, dia harus bisa mengambil sikap yang sebaliknya. Demikian pula, perjanjian-perjanjian tidak perlu mutlak dipatuhi seorang penguasa, sebab perjanjian hanya menunda perang. Kalau kekuasaannya menuntut, perjanjian menjadi tidak relevan untuk dipatuhi.

  1. Idola, Sir Francis Bacon (hal. 25)

Yang dimaksud dengan ‘idola’ adalah rintangan-rintangan bagi kemajuan manusia sebagaimana tampak dalam kemandegan perkembangan masyarakat dan perilaku bodoh para individunya. Idola adalah unsur-unsur tradisi yang dipuja-puja seperti berhala. Idola ini merasuki juga pikiran kita sehingga kita enggan menggunakan kemampuan berpikir kritis.

Ada empat macam idola. Pertama, idola tribus (tribus = bangsa), adalah semacam prasangka-prasangka yang dihasilkan oleh pesona atas keajekan-keajekan tatanan ilmiah, sehingga orang tak sanggup memandang alam secara objektif. Perkecualian-perkecualian dianggap ajaib, mukjizat atau disingkirkan, tidak dipelajari. Idola macam ini menawan pikiran orang banyak (tribus), menjadi semacam prasangka kolektif. Yang kedua adalah prasangka individual yang disebut idola cave (cave/specus = gua). Dimaksudkan di sini bahwa pengalaman-pengalaman dan minat-minat pribadi kita sendiri mengarahkan cara kita melihat dunia, sehingga dunia objektif dikaburkan. Yang ketiga, idola fora (forum = pasar) adalah yang paling berbahaya. Yang diacu di sini adalah pendapat atau kata-kata orang yang diterima begitu saja sehingga mengarahkan keyakinan-keyakinan dan penilaian-penilaian kita yang tak teruji. Keempat adalah idola theatra (theatra = panggung). Dengan konsep ini Bacon memperlihatkan bahwa sistem-sistem filsafat tradisional adalah kenyataan subjektif para filsufnya. Sistem-sistem itu dipentaskan, lalu tamat, seperti sebuah teater.

  1. Teori hati Blaise Pascal (1623-1662), (hal. 52)

Le Coeur a ses raisons que la raison ne connait point (Hati memiliki alasan-alasan yang tidak dimengerti rasio). Dengan pernyataan itu, sebenarnya Pascal tidak ingin mempertentangkan rasio dengan hati, sebab yang dimaksud dengan hati di sini bukanlah emosi belaka. Menurutnya, kita tidak hanya mengetahui kebenaran dengan rasio, tetapi juga dengan hati. Yang dapat mengetahui Allah secara langsung adalah hati, bukan rasio. “Iman”, demikian Pascal, “adalah penasihat yang lebih baik daripada akal. Akal mempunyai batas, tetapi iman tidak.”

  1. Antisosial Thomas Hobbes (1588-1679), (hal. 61)

Manusia dilukiskan oleh Hobbes sebagai makhluk yang antisocial karena pemeliharaan dari itu pada gilirannya akan bertabrakan dengan hasrat pemeliharaan diri yang dimiliki orang-orang lain. Dalam persaingan itu, manusia harus saling memperebutkan sumber-sumber yang langka, mempertahankan apa yang sudah dikuasainya, dan bahkan menundukkan orang-orang lain. Hobbes menganggap kekuasaan sebagai sarana untuk mewujudkan pemeliharaan diri. Karena manusia pada dasarnya mau menguasai yang lain, yang terjadi dalam kehidupan sosial tak kurang dari bellum omnes contra omnia atau perang semua melawan semua. Dalam perang itu, manusia adalah serigala bagi sesamanya, homo homini lupus.

  1. Kritik David Hume (1711-1776) tentang sebab-akibat/kausalitas (hal. 78)

Menurutnya, segala peristiwa yang bisa kita amati memiliki hubungan tetap satu sama lain, tetapi hubungan tetap itu tak boleh dianggap sebagai hubungan sebab akibat. Dalam kasus api menyala, menyentuh kertas, dan kertas terbakar tak bisa disimpulkan bahwa api menyebabkan kertas terbakar (propter hoc), sebab yang bisa kita ketahui hanyalah bahwa kertas terbakar sesudah api menyentuhnya (post hoc). Yang bisa kita amati hanyalah bahwa gejala yang satu menyusul gejala yang lain, sedangkan kausalitas tak bisa kita amati. Hume mengatakan bahwa konsep kausalitas hanyalah animal faith (kepercayaan naïf) kita belaka yang tidak punya dasar.

  1. Pasar dan kepentingan diri (hal. 87-88)

Masyarakat modern adalah masyarakat pasar, masyarakat komersial. Masyarakat semacam itu memiliki ciri-ciri antara lain: terjadinya pembagian kerja yang terinci secara rasional, penghormatan akan hak milik pribadi, dan pengejaran kepentingan diri.

Bernard de Mandeville (1670-1733) menulis buku terkenal Fable of Bees. Di dalam buku itu dia melukiskan keadaan sebuah koloni lebah. Di dalam masyarakat lebih itu menurutnya sumbangan-sumbangan seekor lebah individual bermanfaat bagi keseluruhan koloni lebah itu. dari data alamiah itu dia lalu menarik sebuah ajaran bahwa juga dalam masyarakat manusia, individu-individu yang mengejar kepentingan dirinya sekalipun akan menghasilkan manfaat bagi masyarakat sebagai keseluruhan.

Dukungan untuk masyarakat pasar abad ke-18 paling jelas tampil dalam ajaran Adam Smith (1723-1790). Bukunya yang termasyhur dan sering dikutip dalam ilmu ekonomi berjudul The Wealth of Nations. Di samping buku ini masih ada buku lain, yaitu Theory of Moral Sentiments. Smith mendapat banyak inspirasi dari fisika Newton. Tidaklah mengherankan bila ia lalu berpandangan bahwa masyarakat adalah sistem mekanis yang terus menjaga keseimbangan. Seperti Mandeville, dan juga Hobbes, Smith berpendapat bahwa nafsu-nafsu egoistis adalah nafsu yang paling langgeng dalam diri manusia. Dia mengatakan bahwa kehidupan sosial itu mungkin terjadi di antara para individu yang mengejar kepentingan dirinya itu karena adanya ‘sintimen moral’, yakni rasa simpati yang menyebabkan individu bisa membayangkan dirinya berada pada posisi orang lain. Akan tetapi manusia tidak bisa terus tergantung pada simpati orang lain untuk hidupnya sendiri, maka ia harus mengejar kepentingannya sendiri.

  1. Tahap sejarah pengetahuan, Auguste Comte (1789-1857), (hal. 178)

Sejarah pengetahuan itu berkembang melalui tiga tahap, yang ia sebut sebagai “tahap teologis”, “tahap metafisis” dan “tahap positif”.

Dalam tahap teologis, menurut Comte, umat manusia mencari sebab-sebab terakhir di belakang peristiwa-peristiwa alam dan menemukannya dalam kekuatan-kekuatan adimanusiawi. Kekuatan-kekuatan ini, entah disebut dewa-dewa atau Allah, dibayangkan memiliki kehendak atau rasio yang melampaui manusia. Zaman ini lalu dibagi menjadi tiga sub-bagian. Pada sub-tahap yang paling primitive dan kekanak-kanakan, yaitu tahap fetisisme atau animism, manusia menganggap objek-objek fisik itu berjiwa, berkehendak, berhasrat. Pada tahap berikutnya, politeisme, kekuatan-kekuatan alam itu diproyeksikan dalam rupa dewa-dewa. Akhirnya, pada tahap monoteisme, dewa-dewa dipadukan menjadi satu kekuatan adimanusiawi yang disebut Allah.

Dalam tahap metafisis, umat manusia berkembang dalam pengetahuannya seperti seseorang melangkah pada masa remajanya. Kekuatan adimanusiawi dalam tahap sebelumnya itu sekarang diubah menjadi abstraksi-abstraksi metafisis. Misalnya: konsep ‘ether’, ‘causa’, dan seterusnya. Dengan demikian, peralihan ke tahap ini diselesaikan sesudah seluruh konsep mengenai kekuatan-kekuatan adimanusiawi diubah menjadi konsep-konsep abstrak mengenai alam sebagai keseluruhan. Tidak ada lagi Allah dan dewa-dewa; yang ada adalah entitas-entitas abstrak yang metafisis.

Akhirnya, umat manusia mencapai kedewasaan mentalnya dalam tahap positif. Pada zaman ini umat manusia tidak lagi menjelaskan sebab-sebab di luar fakta-fakta yang teramati. Pikiran hanya memusatkan dari pada yang faktual yang sebenarnya bekerja menurut hukum-hukum umum, misalnya hukum gravitasi. Baru pada tahap inilah ilmu pengetahuan berkembang penuh. Ilmu pengetahuan tidak hanya melukiskan yang riil, tetapi juga bersifat pasti dan berguna.

  1. Tentang surat, Soren Aabye Kierkegaard (1813-1855), (hal. 211)

Surat tetap merupakan sarana yang tak tertandingi untuk mengesankan gadis muda; huruf yang mati itu sering berpengaruh lebih kuat daripada kata yang hidup.

  1. Tentang kebenaran Friedrich Wilhelm Nietzsche (1844-1900), hal. 226.

Kebenaran mustahil dikemas dalam satu sistem. Sikap antisistem ini sama sekali tidak berarti, bahwa Nietzsche tidak menggunakan premis-premis. Dia menggunakannya, tetapi bukan untuk menggiring pembacanya pada sebuah kesimpulan atau penyelesaian masalah, melainkan untuk mencari, menyelami, dan mengoyak asumsi-asumsi tersembunyi sebuah gagasan, termasuk pikirannya sendiri.

  1. Tentang mental menurut Nietzsche, hal. 227-228.

Dalam Die Geburt der Tragodie, Nietzsche menjelaskan bahwa orang-orang Yunani kuna sudah memahami, bahwa hidup ini berbahaya, mengerikan, sulit, dan tak terpikirkan. Meski demikian, mereka tidak menyerah atau lari dari kehidupan ini. Mereka berkata ‘ya’ terhadap kehidupan ini, dan ini kelihatan dalam estetika mereka. Menurut Nietzsche, dari estetika Yunani kuno itu, dapat dibedakan adanya dua macam mentalitas. Yang pertama disebutnya, ‘mentalitas Dionysian’, sedangkan lawannya, adalah ‘mentalitas Apollonian’.

Dionysos adalah dewa anggur dan kemabukan. Buat Nietzsche, dia menjadi lambing pengakuan terhadap kehidupan sekarang dan di sini (Diesseitigkeit) yang selalu mengalir. Dia adalah simbol pendobrakan dari segala batas-batas dan kekangan-kekangan. Dalam ritus misteri yang memuja dewa ini, para pemujanya mabuk, tetapi kemabukan itu justru menyatukan mereka dengan kehidupan, dengan “Ketunggalan Primordial” yang bersifat estetis. Dalam ekstasis itu, individuasi dan perbedaan-perbedaan menjadi kabur, laki-laki dan perempuan lebur dalam “Ketunggalan Primordial”. Jika demikian, mentalitas Dionysian adalah mentalitas kebudayaan Yunani yang cenderung melampaui segala aturan atau norma, mentalitas yang bebas mengikuti dorongan-dorongan hidup tanpa kenal batas.

Sementara itu, Apollo adalah dewa matahari dan ilmu kedokteran, putra Jupiter. Buat Nietzsche, dia menjadi lambing pencerahan, lambing keugaharian, dan pengendalian diri. Dia juga melukiskan asas individuasi. Mentalitas Apollonian, jika demikian, adalah mentalitas kebudayaan Yunani kuno yang cenderung pada keseimbangan, tertib, cinta pada bentuk-bentuk, dan pengendalian diri.

  1. Tentang sejarah menurut Nietzsche, hal. 230.

Nietzsche membedakan antara bersikap ‘historis’ (geschichtlicht) dan ‘tidak historis’ (ungeschictlicht). Untuk bertahan hidup, manusia harus menggunakan memorinya, maka sikap historis itu perlu. Namun terkadang sejarah atau memori itu justru menghalangi kebahagiaan, maka sama perlunya dengan sikap historis adalah tidak historis, yakni kemampuan untuk melupakan. Sikap ketiga yang dianut Nietzsche dalam filsafat kebudayaan adalah ‘suprahistoris’ (unbergeschichtlich). Baginya, masa silam bisa mengajarkan sesuatu bagi masa kini, bahkan menjadi nubuat bagi masa depan.

  1. Tujuan pengetahuan menurut Nietzsche, hal. 235-236.

Kehendak untuk mengetahui sesuatu tergantung pada kehendak untuk menguasai. Jadi, tujuan pengetahuan bukanlah untuk menangkap kebenaran absolute pada dirinya, melainkan untuk menundukkan sesuatu. Dengan pengetahuan kita menciptakan tatanan, merumuskan konsep-konsep, memasang skema-skema pada kenyataan yang sebenarnya senantiasa berubah-ubah. Pengetahuan mengubah Werden (menjadi) yang dinamis menjadi Sein (ada) yang statis, dan usaha ini tak kurang dari penaklukan.

  1. Tujuan kebudayaan menurut Nietzsche, hal. 238.

Tujuan kebudayaan sesungguhnya adalah menghasilkan genius-genius yang member makna kepada kehidupan ini, menumbuhkan bunga yang paling indah dari kebudayaan itu. Jadi, tujuan kebudayaan bukanlah ‘kemanusiaan’. Kemanusiaan hanyalah jembatan untuk mencapai tujuan, yaitu manusia atas.

Bagikan Postingan Ini! 😊

MASUK / DAFTAR

Mulailah Berkarya!
Lupa Kata Sandi? Klik Disini atau Buat Akun Baru
=
Masuk dengan akun lain

Video Kontributor

Media Patner

Hosting Unlimited Indonesia




Note:

Sebagian hasil dari penggunaan layanan dan produk Starla Education akan didonasikan untuk LKSA/Panti Asuhan Roisus Shobur. | Kamu juga bisa ikut langsung berdonasi melalui kitabisa.com/pesantrensosial