Review Buku

Catatan Buku: Islam Agama Semua Zaman | Shabbir Akhtar

Islam Agama Semua Zaman

Shabbir Akhtar, Jakarta: Pustaka Zahra, 2002

 

  1. Kesamaan kondisi dengan Revisionis Marxisme (Hal. 23)

Zaman keemasan imperialism Arab sebenarnya sudah mati dan sudah berlalu. Dalam lingkungan aktivis Muslim ada tanda-tanda kekecewaan terhadap tatanan sejarah. Kerinduan pada kegemilangan masa lalu dan kemarahan yang tak berdaya secara bersama-sama mengungkapkan perasaan kompleks yang boleh diperbandingkan dengan perasaan seorang revisionis Marxisme pada 1930-an. Orang-orang seperti Herbert Marcus, Theodor Adorno, dan Max Horkheimer—anggota-anggota dari Frankfurt School yang didirikan pada 1920-an dan kini sudah dilucuti—dahulu duduk dan berpikir dalam hati, “Apakah sejarah telah keliru?” “Kapankan janji revolusi akan terbukti?” Tidak pula kurang pertanyaan semacam itu dalam kubu Muslim, “ Apakah sejarah suci telah keliru?” “Mungkinkah Allah sudah mencabut karunia-Nya dari umat terbaik yang pernah dilahirkan (Q 3:110) di antara umat manusia—umat yang pernah berjasa meruntuhkan dinasti-dinasti yang ingkar?” “Ataukah semua ini ganjaran atas ketidaksetiaan kita, ataukah ganjaran untuk penolakan kita menerima bahwa Allah benar-benar Mahabesar (Allahu Akbar)?”

 

  1. Ketakutan akan Modernitas (Hal. 40)

Ketakutan pada hal-hal baru adalah awal dari setiap konservatifme. Modernitas memberikan sebuah perjalanan yang berat bagi orang yang hanya mau menghargai sesuatu yang sudah dikenalnya. Karena kurangnya pengaruh-pengaruh yang liberal dan skeptic, masyarakat Muslim telah diisolasi secara luas dari bahaya-bahaya kritik sekuler. Karena tidak adanya tradisi filsafat di dalam Islam, tidak seperti masyarakat religious di Barat, umat Islam telah terhindar dari kerasnya rasionalisme filsafat. Namun, dalam usaha merebut kembali peninggalan Muhammad guna kepentingan zaman sekuler ini—suatu zaman yang lebih menerima filsafat rasional daripada teologi dogmatic—kita perlu setia pada tuntunan-tuntunan religious dari tradisi Islam namun secara simultan resposif terhadap tekanan-tekanan kritis dan rasional masa kini.

 

  1. Menghindari Kewajiban dengan Akal (Hal. 56)

Tak perlu banyak perhitungan atau pun kecerdikan, seperti penjelasan naskah, untuk melihat relevansi kejadian ini dengan masalah yang lebih luas tentang kekafiran penyelidikan rasional terhadap perintah-perintah agama. Manusia adalah makhluk peragu yang mempunyai kehendak hati yang arogan sehingga mereka menolak pasrah kepada kehendak Allah. Karena menganggap dirinya memiliki keragu-raguan yang serius, mereka membantah bahwa terlebih dahulu mereka ingin menyelidiki tuntutan agama sebelum menyetujui untuk pasrah—semuanya itu demi kepentingan integritas intelektual yang lebih besar. Tetapi, sebenarnya manusia dengan sengaja memasukkan rintangan-rintangan yang tidak semestinya dan dapat menimbulkan kesangsian-kesangsian yang sifatnya menentang untuk berusaha membebaskan diri dari kewajiban-kewajiban yang secara diam-diam diakui sebagai sesuatu yang mengikat. Dengan bakatnya mempertanyakan segala hal, yang dipelihara dengan pemikiran yang penuh prasangka, filsafat dapat disebut sebagai sebuah monument bagi kecenderungan makhluk hidup pada kesesatan yang penuh dosa. Dapat diduga filsafat adalah satu disiplin ilmu yang di dalamnya Iblis selalu mempunyai pengikut terbesar.

 

  1. Iman memerlukan pengetahuan (Hal. 62)

Ini menyiratkan bahwa manusia dapat tidak meyakini apa yang ia ketahui; ilmu pengetahuan tidak memerlukan iman meskipun iman mungkin memerlukan bahkan meliputi ilmu pengetahuan. Dengan kata lain, seorang manusia memang patut beriman kepada Tuhan dan dalam pada itu dia mengetahui bahwa Tuhan itu memang ada.

 

  1. Untuk meyakinkan kevalidan iman (Hal. 63)

Dalam saat-saat yang tenang, orang perlu meyakinkan validitas keyakinannya secara objektif. Sebagian dari kita dapat dan seyogianya menanggalkan jubah religiousnya sementara waktu untuk menambalnya guna perbaikan.

 

  1. Iman dan akal pikiran? Mana yang didahulukan? (Hal. 75)

Iman dan akal pikiran sesungguhnya adalah dua penguasa yang berkepala batu; dan untuk menyenangkan keduanya selalu adalah tidak mungkin. Harapan yang ada adalah bahwa keduanya tidak akan bertentangan satu sama lain; iman mungkin sebaiknya lebih kuat daripada akal pikiran tetapi tentu saja akan menjadi paling kuat seandainya bersama dengan akal pikiran. Namun, ketika iman dan akal pikiran bertentangan, maka seorang filosof, begitu pula seseorang yang beriman, tidak boleh ragu-ragu untuk mengambil loyalitas iman yang harus didahulukan.

 

  1. Paham Jingoisme (Hal. 179)

Kesesatan dari jingoism (pandangan yang terlalu mengagung-agungkan kebesaran negeri sendiri) yang menyombangkan diri “Salah atau benar, baik atau buruk negeriku”.

 

  1. Kekaguman Malaikat terhadap Manusia (Hal. 258)

Dan sebenarnya mereka (manusia) melakukan semua itu (ibadah) sambil berhadapan dengan permusuhan Iblis yang membaktikan diri untuk menghancurkan semangat mereka. Pastilah, para malaikat menyimpulkan, ibadah yang dilakukan manusia benar-benar luar biasa; sedangkan para malaikat beribadah dalam lingkungan yang bebas dari kejahatan, keadaan yang memang sudah ditakdirkan cenderung demikian, manusia beribadah di tengah-tengah bermacam godaan dan kesengsaraan kehidupan duniawi serta tetap melakukannya meskipun ada kecenderungan yang inheren pada kealpaan dan kelalaian. Dengan demikian, bukankah ibadah yang dikerjakan sekali-sekali saja oleh manusia yang bebas lebih tinggi nilainya daripada ibadah yang terus-menerus dilakukan oleh para malaikat yang mempunyai sifat patuh?

 

  1. Obat kegagalan (hal. 280)

Satu-satunya obat untuk kegagalan adalah keberhasilan.

 

  1. Tentang modern (Hal. 358)

Modernitas, keadaan menjadi modern, pada hakikatnya, tak dapat dihindarkan. Modernitas adalah konteks penting bagi setiap perjalanan kehidupan yang berlaku dalam dunia kontemporer.

 

  1. Tentang modern (Hal. 364)

Kehidupan modern adalah sebuah tugas yang sulit: sebuah persoalan personal untuk pemenuhan yang dibatasi oleh segala pilihan yang menyiksa dari suatu zaman yang tidak menentu, sebuah usaha untuk mengakui dan memenuhi kewajiban-kewajiban terhadap diri sendiri, keluarga, bangsa dan masyarakat umat manusia sejagat. Bagi Muslim usaha-usaha ini adalah nomor dua setelah usaha yang lebih besar untuk menyenangkan Khaliknya, Dia yang secara kuat diakui sebagai Zat yang lebih besar (akbar) daripada jaringan manusiawi dari pengharapan-pengharapan, tugas-tugas, dan harapan.

Bagikan Postingan Ini! 😊

MASUK / DAFTAR

Mulailah Berkarya!
Lupa Kata Sandi? Klik Disini atau Buat Akun Baru
=
Masuk dengan akun lain

Video Kontributor

Media Patner

Hosting Unlimited Indonesia




Note:

Sebagian hasil dari penggunaan layanan dan produk Starla Education akan didonasikan untuk LKSA/Panti Asuhan Roisus Shobur. | Kamu juga bisa ikut langsung berdonasi melalui kitabisa.com/pesantrensosial