Review Buku

Catatan Buku: Atas Nama Agama | Quraisy Shihab Dkk

Atas Nama Agama

Quraisy Shihab Dkk, Bandung: Pustaka Hidayah, 1998

 

  1. Kejahatan (Halaman 17)

Imam Ali bin Abi Thalib pernah berkata, “Kejahatan yang terorganisir akan mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir.”

 

  1. Pembenaran Agama (Abdurrahman Wahid, Yang Sama dan Yang Benar, 39—Tempo, edisi 2 Juli 1983)

Karena Al-Quran sudah menetapkan bahwa agama yang benar di sisi Allah adalah Islam. Namun, ini tidak berarti bahwa Negara tidak boleh memberikan perlakuan yang sama kepada semua agama. Sebaliknya, keutuhan Negara hanya akan tercapai kalau ia memberikan perlakuan sama di muka hukum. Persamaan teologis antara dua agama tidak mungkin ada—kalau diartikan sebagai hak merumuskan kebenaran mutlak Tuhan. Namun, persamaan kedudukan di muka hukum dapat ditegakkan, selama ada yang memberikan perlakuan sama. Kita seharusnya memahaminya dengan kearifan. Dan kearifan seperti ini tidak dapat ‘dimurtadkan’, karena di dalamnya esensi klaim agama akan kebenaran masih terjaga sepenuhnya.

 

  1. Agama adalah tujuan (Komaruddin Hidayat, Agama Untuk Kemanusiaan, 41—Kompas, edisi 26 Januari 1994)

Ajaran agama diwahyukan Tuhan untuk kepentingan manusia. Dengan bimbigan agama ini diharapkan manusia mendapatkan pegangan yang pasti dan yang benar dalam menjalani hidupnya dan membangun peradabannya. Dengan kata lain, agama diwahyukan untuk manusia, bukannya manusia tercipta untuk kepentingan agama. Agama adalah jalan, bukan tujuan. Dengan bimbingan agama itulah manusia berjalan mendekati Tuhan dan mengharap ridha-Nya melalui amal kebajikan yang berdimensi vertikal (ritual keagamaan) dan horizontal (pengabdian sosial).

 

  1. Misi atau dakwah (Victor I. Tanja, Etnisitas dan Religiositas, 79—Republika, edisi 24 November 1997)

Yang lebih penting bukan lagi misi atau dakwah untuk menambah jumlah dalam artian kuantitatif. Sebaliknya, perlu dipertimbangkan tujuan misi dan dakwah yang tujuan utamanya adalah peningkatan atau pertumbuhan sumber daya insani, baik secara ilmu maupun secara karakter. Jadi kalau boleh saya katakan, tujuan misi atau dakwah adalah untuk menciptakan umat sebagai manusia yang tinggi ilmu, tinggi iman, dan tinggi pengabdian. Kalau itu yang menjadi tujuan utama misi dan dakwah, maka bukan hanya masing-masing umat semakin kokoh imannya, tapi juga semakin kokoh komitmennya bagi kesejahteraan sesama manusia tanpa memandang perbedaan agama, suku, ras, dan asal-usul.

 

  1. Utang Kebudayaan dan Peradaban (Pangeran Charles, Islam dan Barat, 230—Pidato Pangeran Charles, disampaikan di Pusat Pengkajian Islam di Oxford, London, pada 27 Oktober dan juga pernah dimuat dalam harian Republika, edisi dan tanggal tak terlacak)

Di samping banyak salah pengertian di Barat mengenai Islam, juga ada banyak ketidak-acuhan tentang utang kebudayaan dan peradaban kita kepada Dunia Islam. Inilah kegagalan yang menurut saya, berasal dari sejarah yang diwariskann kepada kita. Dunia Islam abad pertengahan, dari Asia Tengah sampai pantai Atlantik, merupakan dunia di mana ilmuwan dan pemikir berkembang. Tetapi, karena kita telah cenderung untuk melihat Islam sebagai musuh Barat, sebagai kebudayaan, masyarakat, dan sistem kepercayaan yang asing, kita telah cenderung untuk melupakan atau menghilangkan hubungannya yang erat dengan sejarah kita. Misalnya, kita telah meremehkan pentingnya masyarakat dan kebudayaan Islam selama 800 tahun di Spanyol antara abad ke-8 dan ke-15 M. Sumbangan Muslim terhadap pemeliharaan pengetahuan klasik selama berabad-abad kegelapan, dan terhadap lahirnya renaissance telah lama diakui. Tetapi, Islam di Spanyol lebih dari satu tangga di mana pengetahuan Yunani disimpan untuk kemudian digunakan oleh dunia Barat yang bangkit lagi. Orang Muslim di Spanyol tidak saja mengumpulkan dan memelihara isi intelektual dari Yunani Kuno dan peradaban Romawi. Mereka juga menafsirkan dan mengembangkan peradaban itu, dan telah memberikan sumbangan vital di banyak usaha manusia dalam sain, ilmu bintang, matematika, aljabar (yang merupakan kata Arab), hukum, sejarah, kedokteran, farmasi, optic, pertanian, arsitektur, teologi, dan music. Averroes (Ibnu Rusyd), seperti juga sejawatnya Avicenna (Ibnu Sina) dan Rhazes (ar-Razi) di Timur, menyumbang pada studi dan praktik kedokteran dalam banyak hal yang selama berabad abad selanjutnya dimanfaatkan oleh Eropa.

Islam memelihara dan mempertahankan pencarian ilmu pengetahuan. Dalam kata-kata rasional, “Tinta dari pena seorang pemikir lebih sakti dari darah seorang syuhada.” Cordoba pada abad kesepuluh merupakan kota yang paling beradab di Eropa. Kita mengetahui adanya perpustakaan di Spanyol pada zaman pertengahan. Sebaliknya, pada waktu yang sama, Raja Alfred di Inggris begitu terbelakang sehingga untuk membuat kue pun ia tidak sanggup. Kabarnya terdapat 400.000 buku di perpustakaan milik penguasa Cordoba yang jumlahnya lebih banyak dari semua buku yang ada di Negara-negara lain di Eropa. Ini mungkin terjadi karena dunia Islam belajar cara membuat kertas dari Cina lebih dari empat ratus tahun sebelum Negara-negara non-Muslim Eropa mempelajarinya. Banyak cirri yang dibanggakan oleh Eropa modern sebenarnya berasal dari Muslim di Spanyol. Diplomasi, perdagangan bebas, perbatasan yang terbuka, teknik penelitian akademis, antropologi, etiket, mode, pengobatan, rumah sakit, semuanya berasal dari kota teragung ini. Islam abad pertengahan merupakan agama yang sangat toleran untuk masanya yang membolehkan orang Yahudi dan Kristen untuk menjalankan kepercayaan mereka, dan memberikan contoh, yang sayangnya, tidak diikuti Barat selama berabad-abad.

Islam adalah bagian dari masa lalu dan masa depan kita, di setiap bidang usaha manusia. Islam telah membantu menciptakan Eropa modern. Islam merupakan bagian dari warisan kita dan bukan merupakan hal yang terpisah.

 

  1. Sikap tertutup dan terbuka (Ahmad Gaus A.F., Dialog Agama: Kekuatan yang Membisu?,301—Kompas, edisi 16 Januari 1998)

Ketertutupan adalah cermin ketakutan, dan ketakutan adalah cermin kegoyahan. Keterbukaan adalah cermin keberanian, dan keberanian adalah cermin kekokohan. Kekokohan dasar dalam beriman bagi seseorang justru terbukti ketika ia berani berhadapan dengan orang lain yang berbeda pandangan dengannya dalam satu agama dan orang-orang lain yang berbeda agama dengannya.

 

  1. Penelitian Toleransi (Ahmad Gaus A.F., Dialog Agama: Kekuatan yang Membisu?,301-302—Kompas, edisi 16 Januari 1998)

Suatu penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi sikap toleransi atau ketiadaan-toleransi keagamaan telah dilakukan oleh Dominic Emmanuel, Kepala Sekolah Suara Hindi untuk Radio Veritas di Fillipina, dalam tesis MA-nya. Penelitian itu berkenaan dengan sikap toleransi empaat kelompok keagamaan: Hindu, Muslim, Sikh dan Kristen, di Indore, India. Melalui kajian itu, ia menganalisis pendapat dan kepercayaan orang-orang yang dipilih secara acak dari empat kelompok keagamaan tdi tentang perkawinan antaragama, doa dan ibadah antaragama, penggunaan kitab-kitab suci agama lain, partisipasi dalam festival agama-agama lain, pemakaian nama Tuhan, dan partisipasi dalam ibadah banyak agama.

Hasil penelitian itu mempertegas bahwa ajaran keagamaan dari agama yang berbeda memainkan suatu peran penting dalam mempengaruhi sikap toleransi atau ketiadaan-toleransi. Di antara empat kelompok keagamaan tadi, kemunitas Hindu pada dasarnya lebih toleran daripada kelompok-kelompok lain, karena struktur Hinduisme tidak melembaga (not institutionalized). Agama ini tidak begitu dogmatis, sebagaimana Islam dan Kristen. Sejarah telah membuktikan bahwa Hinduisme selalu terbuka dan siap menyerap kepercayaan baru mana pun dan memperkenankan kepercayaan itu sebagai suatu bagian Hinduisme. Setelah orang-orang Hindu, sikap toleran juga lahir dari kalangan Sikh. Orang-orang Sikh lebih toleran daripada orang-orang Muslim dan orang-orang Kristen, karena agama Sikh lebih banyak berasal dari akar Hinduisme. Hasil dari penelitian itu juga memperlihatkan bahwa orang Kristen dan orang Muslim kurang toleran. Dalam perbandingan antara empat kelompok itu, komunitas Hindu menempati peringkat tertinggi, dan kalangan Muslim adalah yang paling tidak toleran.[1]

Sejarah telah membuktikan bahwa mistisme dalam berbagai agama memiliki tingkat toleransi yang sangat tinggi. Hinduisme adalah agama yang penuh dengan unsur-unsur mistis, Hinduisme dan agama-agama India lain dapat disebut sebagai “agama mistis.” India sepanjang sejarahnya, sangat ramah kepada mistisme, dank arena keramahannya itu, R.C. Zaehner dengan tepat menyebut India sebagai “sekolah tinggi mistisme.”[2] Selain India, Cina dan Jepang adalah tanah yang subur untuk pertumbuhan agama-agama mistis. Agama-agama mistis yang terpenting adalah Hinduisme, Jainisme, Budhisme, Konfusionisme, Taoisme, dan Shinto. Agama mistis dapat dibedakan dengan “agama profetik.” Agama-agama profetik yang penting adalah Yahudi, Kristen, Islam dan Zoroaster.

 

  1. Menghadapi Zaman Millenium Ketiga (M. Sastrapratedja, Ilmu Perbandingan Agama dan Disintegrasi Umat Beragama, 344)

Dalam bukunya, Global Responsibility in Search of A New World Ethic,[3] Hans Kung mempertanyakan bagaimana etika global menghadapi millennium ketiga. Jawabannya adalah Planetary Responsibility yang lebih menekankan Etika tanggung jawab (global) daripada etika sukses.

[1] Dominic Emmanuel, “Tolerance, Intolerance, and Inter-Religious Dialogue,” Inter-Religio 23 (Summer 1993): 25-27.

[2] R.C. Zaehner, Hindu and Muslim Mysticism, (New York: Schoken, 1969), 3.

[3] Hans Kung, Global Responsibility in Search of A New World Ethic, Crossroad, New York, 1991.

Bagikan Postingan Ini! 😊

MASUK / DAFTAR

Mulailah Berkarya!
Lupa Kata Sandi? Klik Disini atau Buat Akun Baru
=
Masuk dengan akun lain

Video Kontributor

Media Patner

Hosting Unlimited Indonesia




Note:

Sebagian hasil dari penggunaan layanan dan produk Starla Education akan didonasikan untuk LKSA/Panti Asuhan Roisus Shobur. | Kamu juga bisa ikut langsung berdonasi melalui kitabisa.com/pesantrensosial