Review Buku

Catatan Buku: Spiritual Journey Pemikiran dan Permenungan Emha Ainun | Nadjib Prayogi R. Saputra

Spiritual Journey

Pemikiran Dan Permenungan Emha Ainun Nadjib

Prayogi R. Saputra, Jakarta: Pt Kompas Media Nusantara, 2012

 

  1. Tentang Mekanika Kuantum, Partikel yang saling mengikat (Hal. xiii – xv)

Beberapa tahun kemudian terbit sebuah buku kecil yang indah ditulis oleh Doktor Johanes Surya, seorang yang sangat cemerlang peraih Ph.D dalam ilmu fisika dari College of William and Mary, Amerika Serikat. Judul bukunya Mestakung, akronim dari semesta mendukung. Buku itu mengajarkan tentang kohesi antara keinginan dan dukungan semesta.

Isi buku itu mengisahkan perjuangan Johanes Surya dan kawan-kawannya dalam memperjuangkan Tim Olimpiode Fisika Indonesia (TOFI) dari sisi finansialnya hingga target-target yang hendak dicapai. Doktor Johanes Surya membuktikan bahwa mestakung itu ada.

Belakangan, aku baru menyadari bahwa salah satu teori fisika secara meyakinkan mendukung pernyataan keempat orang tersebut. Teori itu adalah mekanika kuantum, salah satu masterpiece fisikawan yang digongi oleh teori Heisenberg.

Salah satu prinsip mekanika kuantum yang dikemukakan menyatakan bahwa setiap materi di dunia ini pada titik terkecilnya adalah partikel dan gelombang. Jika seorang ilmuwan melakukan penelitian, maka tindakan observasi dan pikiran si peneliti akan berpengaruh langsung terhadap gerak-gerik dan keberadaan partikel-partikel objek penelitian tersebut.

Jika si ilmuwan mengharapkan hasil penelitian A, maka hasil penelitian tersebut akan cenderung A. Jika si peneliti menghendaki hasilnya C, maka hasil penelitian tersebut akan cenderung C.

Apa sebabnya? Sebab, partikel-partikel bisa saling terikat (entangled). Akibat dari keterikatan itu membuat sifat-sifat partikel-partikel tadi saling berkorelasi satu sama lain—dan ini yang mengejutkan—tanpa terikat ruang dan waktu. Ini sunggu menakjubkan.

 

  1. Tentang Keterikatan Kuantum (Quantum Entanglement) atau Quantum nonlocal connection (hal. 18-19)

“Kalau saudara pernah nonton film Star Trek atau sinetron Lorong Waktu, seperti itulah kejadiannya,” Kata Pangeran Lokajaya, kerabat jauh raja dari kerajaan jiran, peraih Ph.D dalam Fisika Kuantum dari salah satu universitas di sana.

“Namun,” kata pangeran melanjutkan, “fisika baru sampai ke sana dalam skala atomik. Dalam arti, itu baru terjadi pada penelitian di laboratorium dan benda yang berpindah bukan benda besar, tapi hanya atom. Prestasi terbesar fisika dalam hal ini dicapai oleh Eugene Polzik dan timnya di mana mereka berhasil mengikat dua awan yang terdiri dari triliunan atom cesium.”

 

  1. Tentang peradaban masa lampau, termasuk membaca hal non literer (hal. 44-45)

Kalau Nabi Nuh mampu membuat kapal raksasa, berarti masyarakat sekitar Nabi Nuh hidup saat itu sudah memiliki pabrik galangan kapal yang hebat. Sehingga memungkinkan Nabi Nuh mengadopsi teknologi yang ada dan mengembangkannya menjadi kapal raksasa. Itu contoh peradaban fisik manusia pada masa lalu.

Sementara, dari peradaban rohani, manusia juga mengalami masa-masa yang sejahtera sentosa. Bisa dibilang, manusia sebelum Nabi Musa itu sangat saleh. Buktinya, Allah tidak merasa perlu untuk menurunkan informasi-informasi literer sebagai panduan kehidupan manusia di muka bumi. Allah membekali manusia dengan firman non literer berupa bumi, serta isinya, alam semesta di luar sana dan alam semesta di dalam dirinya. Agama-agama jawa (Kejawen) mungkin bisa diletakkan dalam kerangka zaman pra-Musa ini.

Sementara, setelah Nabi Musa, manusia mengalami degradasi makna kehidupan yang luar biasa. Hingga Allah pun merasa perlu membekali manusia dengan firman yang literer. Sebab, manusia sudah tidak mampu atau tidak mau lagi menggunakan teknologi yang telah ditanam di dalam dirinya untuk mempelajari firman non literer. Maka turunlah kitab-kitab suci: Taurat, Zabur, Injil, dan terakhir Al-Quran.

 

  1. Tentang Bolean logic dan Fuzzy Logic (Hal. 46)

Bolean logic secara sederhana adalah logika yang hanya mengenal dua kemungkinan, ya atau tidak, hitam atau putih, angka nol atau angka satu. Sementara fuzzy logic adalah wilayah ketidakpastian di tengah kedua pilihan tersebut. Dalam bahasa analogi di atas, fuzzy logic berarti wilayah luas di antara angka nol dan angka satu. Spektrum warna di antara ekstrem hitam dan ekstrem putih dalam variasinya. Atau jawaban diantara ya atau tidak.

 

  1. Tentang sains modern dan kehampaan (Hal. 53-54)

Namun, sains modern yang telah memberi cara pandangan baru manusia terhadap dunia dan alam semesta membawa kemajuan bagi kehidupan ternyata sekaligus melahirkan anak kembarnya: kehampaan. Kesadaran akan kehampaan itu lambat laun semakin kuat dan meluas. Sehingga, sejak dekade 1960-an, di dunia Barat mulai tumbuh perasaan tersesat secara kolektif. Manusia barat mulai jenuh dengan materialisme yang telah mendegradasi makna kehidupan hanya sebatas urusan ekonomi semata. Maka, benih-benih pencarian terhadap makna kehidupan mulai tumbuh.

Gejala ini terus berkembang hingga pada dekade 1980-an sampai 1990-an, gejala-gejala pencarian spriritualitas mulai tampak pada perilaku sosial masyarakat Barat. Di Jerman, fakultas yang laku keras adalah fakultas filsafat. Di Amerika, mulai banyak bermunculan kelas-kelas meditasi atau yoga. Gerakan sufi pun mulai mendapatkan momentumnya untuk tumbuh di dunia Barat. Bahkan, Dr. Witteveen, mantan direktur eksekutif IMF, sampai memerlukan diri menulis sebuah buku untuk menyampaikan gagasannya tentang peran penting sufisme untuk mengisi spriritual manusia dalam kehidupan modern.

 

  1. Tentang reproduksi asexsual dan sexual (Hal. 58-59)

Reproduksi adalah mewariskan genetika atau transfer informasi genetik dari induk atau orang tua kepada anaknya. Apa yang dimaksud dengan genetika? Genetika adalah informasi menyeluruh tentang makhluk hidup yang bersangkutan. Informasi gnetika ini yang memastikan bahwa sapi modelnya seperti yang kita lihat, besarnya sekian itu, hidungnya menghitam, kakinya letaknya di situ, dan seterusnya.

Dalam hal ini, metode asexual menurunkan 100 persen informasi genetikanya atau mengopi penuh sifat dan karakternya kepada anaknya. Sedangkan metode sexual menghasilkan anak dengan penyesuaian-penyesuaian informasi genetika dari kedua belah pihak. Artinya membentuk sesuatu yang baru berdasarkan informasi yang ada.

Ada masing-masing kelebihan dan kelemahan dari dua metode ini. Metode asexual memiliki kelebihan perkembangbiakan yang lebih cepat. Sehingga hasilnya lebih banyak. Tapi, resikonya adalah karena sifatnya yang seratus persen mengopi, maka dia akan sangat rentan terhadap penyakit. Jika salah satu terserang penyakit, maka yang lain juga akan terserang. Lain halnya dengan metode sexual. Metode ini lebij lambat dalam perkembangbiakan. Namun karena gennya merupakan produksi dari dua informasi genetik, maka dia akan lebih tahan terhadap serangan penyakit. Jika satu terkena penyakit yang lain belum tentu terserang.

Kemudian, bagaimana aplikasi teori reproduksi tersebut terhadap bidang pendidikan? Menurut Sabrang, esensi pendidikan adalah proses transfer informasi seperti halnya dalam reproduksi. Bedanya, jika dalam reproduksi yang ditransfer adalah informasi genetika. Sementara dalam pendidikan yang ditransfer adalah ilmu pengetahuan.

Mengambil analogi siput, untuk mempermudahkan cara berpikir dalam bahasa ini, maka cara perkembangbiakan tanpa pasangan atau asexual dalam tema ini akan disebut model reproduksi. Sementara untuk perkembanganbiakan dengan pasanga atau sexual akan disebut model produksi.

Model reproduksi jika digunakan dalam sistem pendidikan sangat sesuai dengan bidang kajian ilmu-ilmu eksak. Seperti matematika, fisika, kimia, dan sebagainya. Mengapa demikian? Sebab, ilmu-ilmu eksak sangat membutuhkan temuan-temuan atau informasi-informasi yang ditemukan lebih dulu untuk mendukung kajian-kajian selanjutnya. Cara ini menghasilkan manusia-manusia yang pintar.

Sedangkan model produksi sangat cocok untuk kajian-kajian sosial dan kemanusiaan. Seperti psikologi, ilmu politik, dan sebagainya. Mengapa demikian? Karena ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan membutuhkan penyesuaian-penyesuaian yang terus menerus dengan perubahan lingkungan, gaya hidup, dan sebagainya berdasarkan informasi-informasi atau teori-teori yang telah ada sebelumnya. Dan sangat besar kemungkinan teori-teori sebelumnya akan gugur. Model ini menghasilkan cara berpikir yang kritis dan analitik.

 

  1. Apa artinya panasnya api neraka jika sudah mendapatkan Ridha dari Allah (Hal. 100-101)

Doktor Kamba mencontohkan ibaratnya cahaya lilin itu adalah manusia sementara cahaya Allah adalah cahaya matahari. Seterang apa pun cahaya lilin, jika muncul matahari maka cahaya lilin itu akan terserap ke dalam cahaya matahari. Itulah perumpamaan cahaya manusia dan cahaya Allah. Jadi, sebenarnya Allahlah yang menarik manusia untuk datang kepada-Nya. Bukan manusia yang memiliki kekuatan untuk mencapai-Nya.

Menjalankan kewajiban-kewajiban yang diperintahkan oleh Allah seperti shalat, puasa, dan sebagainya itu tidak akan mampu mengantarkan manusia untuk mencapai Allah. Tetapi, ibaratnya hanya menggelar karpet untuk mempersiapkan diri siapa tahu Allah berkenan menganugerahkan kesaksian itu kepadanya.

Jika manusia sudah sampai pada level itu, surga dan neraka menjadi tidak penting lagi. Sebab yang paling penting adalah Ridha Allah. Ridha Allah adalah jika manusia sudah berada dalam kondisi sepenuhnya total kompatibel, terserap menjadi bagian Allah. Anda—manusia—hilang seperti terserapnya cahaya lilin oleh cahaya matahari. Namun bukan berarti anda adalah Allah. Itu yang sering disalahtafsirkan orang atas Al Halajj atau Siti Jenar.

Jika sudah sampai pada Ridha Allah, dalam sebuah tamsil, manusia tidak peduli lagi pada apakah dia akan masuk surga atau neraka. Sebab, jika sudah dianugerahi kesaksian dan Ridha Allah, maka Yaa naarukuunii bardan… Api pun menjadi dingin seperti saat Ibrahim dibakar oleh Raja Namrud. Jadi, apa artinya neraka?

 

  1. Tentang Doa (Hal. 130-131)

Emha, “Rosulullah tidak pernah berdoa untuk dirinya sendiri. Fokus utama doa Rosulullah selalu umatnya. Dalam peradaban Jawa, kita diperkenalkan dengan istilah manunggaling kawulo lan gusti. Jika menggunakan terminologi ini, artinya jika Rosulullah sedang berhadapan dengan Allah, maka beliau membawa kita—umatnya—bersamanya. Sedangkan jika Rosulullah sedang berhadapan dengan umatnya, beliau membawa Allah. Jadi Allah telah menjadi tuan rumah bagi kalbu Rosulullah.”

“Kedua, doa itu berasal dari akar kata yang sama dengan dai dan dakwah. Jika dai berarti panggilan yang sifatnya horizontal. Sedangkan dakwah panggilan yang sifatnya vertikal. Kalau pada sesama manusia kita memanggil. Namun kalau kepada Allah kita menyapa. Doa itu menyapa.”

 

  1. Heart: connecting people (Hal. 182)

“Heart: connecting people. Hatilah yang menyambungkan manusia satu dengan manusia lain. Bukan agama, bukan kebangsaan apalagi ikatan negara.”

“Hati membuat orang memiliki rasa kasih, iba, dan sayang. Di hati pula tempat terbaik tumbuhnya cinta.”

 

  1. Ilmuwan yang berkunjung ke Jamaah Maiyah (Hal. 186-187)

Ada satu hal menarik yang berujung pada shocking information terjadi malam itu saat sesi perkenalan dengan para tamu. Di atas panggung rendah, di hadapan ribuan jamaah Maiyah, Laurens Minnema—sang Profesor dari Belanda itu—mengutarakan bahwa dian dan orang-orang Belanda sangat malu jika mengingat nenek moyang mereka pernah menjajah nusantara ini dalam waktu yang sangat lama.

Dia juga menyampaikan bahwa tentara yang dibawa ke Nusantara ini adalah orang-orang Belanda desa yang tidak tahu apa mereka berperang. Bahkan, mereka tidak tahu jika mereka adalah mesin utama penjajahan Belanda atas Nusantara ini. Dia mengucapkan semuanya dengan mata menggerabak, rona muka memerah, dan kalimat yang terputus-putus mencegah tangis.

Lourens juga menyatakan sangat menyesal dan minta maaf atas semua itu. Apalagi, bangsa Indonesia tidak menaruh dendam kepada Belanda. Baginya, itu hal yang menakjubkan. Dia hampir menunduk menahan rasa malunya. Udara seperti bertambah dingin. Hampir beku.

Tapi, jawaban jamaah Maiyah membuatnya tercengang. Jamaah Maiyah menyampaikan kepada Lourens dalam bahasa Indonesia—yang tidak dipahami Lourens—bahwa Lourens tidak perlu merasa malu dengan hal itu. Lourens juga tidak perlu merasa bersalah. Sebab, bangsa Indonesia ini memiliki daya tahan yang luar biasa. Buktinya, kendati sudah dijajah habis dan dikeruk kekayaannya selama ratusan tahun bahkan sampai hari ini, manusia-manusia ini tetap saja tegar dan cengengas-cengengesan, tetap rokokan kebal-kebul dan tidak merasa kesal apalagi sakit hati kepada siapa pun.

 

  1. Tidak butuh aturan (Hal. 191)

Malam itu, Emha mengatakan, “Jika aku tidak menyakiti siapa pun, tidak merugikan harta, martabat dan nyawa siapa pun, maka aku tidak membutuhkan hukum Indonesia, Al-Quran, dan hukum apa pun.”

Tentu saja, Emha mengatakan itu bukan dalam kerangka untuk menafikan hukum atau pun AL-Quran. Dia ingin mengatakan bahwa setiap manusia dibekali “sesuatu” yang memiliki kemampuan untuk membedakan mana yang baik menurut fitrah dan mana yang tidak baik. “Sesuatu” itulah yang digunakan untuk “membaca” Al-Quran non literer pada zaman pra-Musa.

 

 

Bagikan Postingan Ini! 😊

MASUK / DAFTAR

Mulailah Berkarya!
Lupa Kata Sandi? Klik Disini atau Buat Akun Baru
=
Masuk dengan akun lain

Video Kontributor

Media Patner

Hosting Unlimited Indonesia




Note:

Sebagian hasil dari penggunaan layanan dan produk Starla Education akan didonasikan untuk LKSA/Panti Asuhan Roisus Shobur. | Kamu juga bisa ikut langsung berdonasi melalui kitabisa.com/pesantrensosial