Review Buku

Catatan Buku: Pendidikan Alat Perlawanan Teori Pendidikan Radikal Paulo Freire | Siti Murtiningsih

Pendidikan Alat Perlawanan

Teori Pendidikan Radikal Paulo Freire

Siti Murtiningsih, Yogyakarta: Resist Book, Januari 2006

 

  1. Tentang Pendidikan Dialogis
  • 23

Menurut Freire, usaha-usaha penyadaran rakyat haruslah didukung oleh pelaksanaan skenario pendidikan yang berorientasi pada pembebasan dimana antara guru dan murid terbangun sebuah hubungan yang dialogis.

  • Dialog Paulo Freire (Hal. 58)

Plato dan Socrates menggunakan dialog sebagai “propaedatik”. Dialog ini bertujuan untuk mengarahkan manusia agar menemukan kembali ide-ide-nya yang sudah lama terlupakan. Dalam dialog ini pengetahuan atau logos terpisah dari manusia serta dipahami oleh manusia sebagai bergerak melalui dialog, sehingga jauh dari esensi atau opini. Hal ini sangat berbeda dengan dialog yang dimaksudkan oleh Freire. Dialog bagi Freire merupakan refleksi atas hubungan manusia-dunia, tetapi juga sekaligus titik awal bagi keberadaan manusia di dalam dan bersama dunia.

Freire mengilustrasikan dialog murni sebagai suatu bentuk kasih sayang. Setiap aktivitas dialog, begitu Freire, menuntut manusia untuk melakukannya dengan penuh cinta, dengan objek dari cinta adalah sesama manusia dan dunia. Manusia harus mencintai diri sendiri, sesamanya, dan mencintai hidup. Cinta dicirikan oleh janji manusia pada sesamanya, dan sebenarnya juga pada dunia, serta dibuktikan dengan komitmen terhadap kejujuran, kesetiaan dalam perwujudannya mencipta sejarah. Dialog menuntut manusia untuk tampil sederhana seperti ketika manusia mencari pengetahuan bersama-sama. Dialog tidak akan terjadi jika manusia menganggap sangat hina terhadap sesamanya.

 

  1. Akibat penindasan pendidikan (Hal. 29)

Freire sangat prihatin dengan keadaan di mana karena struktur yang menindasnya, manusia justru mengada sebagai orang lain. Hal ini berarti manusia menjadi objek semata, dan didesak untuk kehilangan pilihan-pilihan atas pemikirannya sendiri. Karena hal seperti itu, menurut Collins, metodologi Freire pun selalu juga bertujuan mengelaborasi masalah-masalah yang menyebabkan manusia merasa dipojokkan dalam pemikiran-pemikirannya sendiri serta mengada bukan sebagai dirinya sendiri, tetapi sebagai orang lain (Collins, 1977:31).

 

  1. Tentang diskusi yang kondisional (Hal. 33)

Menurut Freire, bagi seorang pendidik mudah saja untuk mendiskusikan masalah-masalah kebebasan melalui sebuah institusi pendidikan. Tetapi, akan jauh lebih bersifat praktis apabila mendiskusikan masalah-masalah tersebut dalam sebuah desa yang jalannya berlumpur serta dihuni oleh orang-orang kelaparan dengan kaki telanjang.

 

  1. Tentang Solipsisme (Hal. 44, catatan kaki)

Dalam filsafat, solipsisme dikenal karena pandangannya bahwa manusia tidak mungkin mengetahui sesuatu di luar apa yang ada dalam pikirannya sendiri. Pikiran dianggap bersifat tertutup terhadap fakta eksternal dan bekerja hanya dengan mengambil rujukan-rujukan pada dirinya sendiri. Begitu juga dengan kesadaran. Satu-satunya objek kesadaran yang mungkin tak lain adalah pikiran dan kesadarannya sendiri. Sedang fakta ada karena konstruksi pikiran kita.

 

  1. Tahap-tahap refleksi (kesadaran) manusia (Hal. 47-49)

(Menurut Freire) tahap pertama disebut sebagai tahap kesadaran semi intransitif. Tahap ini ditunjukkan dengan kesadaran manusia masih tenggelam dalam proses sejarah. Kesadaran semi-intransitif dipersempit oleh kepentingan. Artinya, ia tidak melibatkan eksistensi (-nya) sebagai sebuah problem.

Tahap kedua adalah kesadaran naif-transitif. Pada tahap ini, kesadaran manusia mulai mampu mengenali persoalan-persoalan yang muncul dalam realitas yang dihadapinya, namun kesadaran itu masih terisi oleh pendapat-pendapat dan sikap-sikap naif (Freire, 1979: 18). Pendapat dan sikap naif tersebut contohnya misalnya penyederhanaan masalah, mengidentifikasikan diri sebagai elite, kecenderungan kembali pada masa lampai, keengganan meneliti sendiri, cenderung menerima penjelasan yang siap pakai, sikap emosional yang masih kuat, tidak jernih dalam beragumentasi, serta lebih gemar melakukan debat dan polemik ketimbang dialog (Freire, 1972: 134-135).

Tahap ketiga dari refleksi manusia adalah kesadaran transitif-kritis. Tahap kesadaran ini muncul manakala manusia mulai mempercayai bahwa realitas adalah masalah yang harus dipecahkan. Manusia pada tahap ini dapat tumbuh ketika kepentingannya dan pemikirannya bergerak keluar ke alam lain dan mulai berdialog dengan orang lain, dengan dunia bahkan dengan Tuhannya. Ciri yang paling khas dari kesadaran ini menurut Freire adalah adanya penangkapan situasi persoalan dengan sikap yang menyeluruh (komprehensif), matang, dan lebih kritis (Freire, 1970: 68-70).

 

  1. Sistem pendidikan gaya bank (Hal. 72)

Dan lebih buruknya kondisi ini dilegitimasi oleh sistem pendidikan gaya bank. Pengetahuan bukanlah barang yang dapat ditransfer begitu saja dari satu pikiran ke pikiran lainnya. Pengetahuan itu tidak dapat dipindahkan dari kepala seseorang pendidik ke banyak kepala peserta didik. Namun peserta didik sendirilah yang semestinya menafsirkan apa yang ia cerap dan mengitegrasikannya ke dalam realitas konkret. Dari sini terlihat bahwa pengetahuan lebih menunjuk pada keterlibatan seseorang dalam dan bersama dunia. Tanpa keterlibatan terus menerus dengan realitas konkret, seorang peserta didik tidak akan mampu memperoleh pengetahuan sejati.

 

  1. Sistem pendidikan gaya bank (Hal. 77-78)

Freire mengamati kontradiksi hubungan pendidik-peserta didik pada sistem bank yang ciri-cirinya antara lain: pendidik mengajar dan peserta didik diajar; pendidik mengetahui segalanya dan peserta didik tidak mengetahui apapun; pendidik berpikir dan peserta didik dipikirkan; pendidik berbicara dan peserta didik patuh mendengarkan; pendidik mendisiplinkan dan peserta didik didisiplinkan; pendidik memilih dan memaksakan pilihannya sementara peserta didik menurut serta menyesuaikan dirinya; pendidik beraksi dan peserta didik mengira sudah beraksi bila ia meniru pendidiknya; pendidik memilih program dan peserta didik menyesuaikan diri dengan program itu; pendidik mencampuradukkan otoritas ilmu pengetahuan dengan otoritas profesinya yang bertentangan dengan kebebasan peserta didik; pendidik merupakan subjek proses belajar dan peserta didik hanya merupakan objek dari proses belajar (Freire, 1972: 59).

 

  1. Hubungan pendidik-peserta didik (Hal. 85-86)

Hubungan pendidik-peserta didik antara lain dapat dicirikan sebagai berikut. Pertama, pendidik belajar dari peserta didik dan peserta didik belajar dari pendidik. Kedua, pendidik menjadi rekan peserta didik yang melibatkan diri dan menumbuhkan daya pemikiran kritis para peserta didiknya dan keduanya saling memanusiakan (Lelyveld, tt: ii).

 

  1. Internalisasi dalam alfabetisasi (Hal. 95)

Internalisasi adalah tahap di mana seseorang memproses pembatinan atas nilai dari sesuatu yang berada di luar dirinya (eksternal) menjadi bagian dari dirinya (internal) (Sutrisno, 1995: 62). Melalui internalisasi ini, peserta didik memproses sesuatu yang sebelumnya berada di luar, menjadi bagian dari wawasan dan menjadi acuan dirinya dalam bertindak dan bersikap. Artinya, sesuatu yang sebelumnya merupakan pengetahuan dari luar yang datang sebagai pengetahuan kognitif, kemudian menyatu dengan dirinya dan dunia sekelilingnya lewat internalisasi. Pada proses internalisasi inilah terletak ujian apakah sebuah pendidikan hanya merupakan proses hafal menghafal secara kognitif, ataukah suatu proses pembatina yang membentuk acuan sikap?

Pemahaman terhadap proses internalisasi dalam alfabetisasi ini mengandung dua kata kunci (Freire, 1979: 49-54). Pertama, adalah deskripsi atau gambaran kembali pengetahuan yang ditangkap peserta didik secara kognitif. Ini misalnya seperti melukiskan kembali warna-warna sesuai gambar yang ada dalam imaginasi para peserta didik, bunga berwarna merah dan daun berwarna hijau. Kedua, adalah aktivitas internalisasi dalam pelbagai kegiatan, seperti menempelkan kliping kertas koran pada belajar abjad. Aktivitas tersebut tidak hanya sampai pada tindakan menempelkan kliping, namun sekaligus merangkai dengan kata-kata sendiri proses kognitif alfabetisasinya.

 

  1. Arena pembebasan (Hal. 97-98)

Freire (1972) menyatakan bahwa pendidikan adalah arena pembebasan. Di dalam pendidikan itulah manusia dapat menemukan dirinya. Melalui pendidikan pula seseorang mempunyai sikap kritis terhadap dunia dan kenyataan-kenyataan di sekitarnya yang menindas, kemudian secara progresif mengubah dunia ini lewat tindakan dan aksi. Pendidikan merupakan pembentukan manusia-manusia baru yang akan menciptakan dunia baru.

 

  1. Proses belajar (Hal. 100)

Proses belajar seperti ini bukanlah proses mencetak seseorang menjadi orang lain, melainkan tindakan membiarkan dan memupuk seseorang menjadi dirinya sendiri. Peserta didik tidak dipaksa agar memiliki rasa ketergantungan pada orang lain, namun ia dibiarkan agar dapat menjadi dirinya sendiri. Seseorang pendidik tidak bertugas membentuk didikannya menjadi manusia sesuai yang dikehendakinya. Namun memantapkan visi yang telah ada pada diri peserta didiknya itu. Untuk pertama kali, pendidik membantu peserta didik untuk memahami realitas diri mereka sendiri.

 

  1. Penanggung jawab dalam pendidikan (Hal. 103)

Freire menegaskan bahwa yang bertanggung jawab terhadap hasil belajar seperti itu adalah peserta didik sendiri. Mereka membawa pemahamannya yang lama dalam situasi belajar baru. Peserta didik sendiri yang membuat penalaran atas realitas yang dihadapinya lewat pencarian makna, membandingkannya dengan apa yang telah diketahuinya, serta menyelesaikan ketegangan antara apa yang telah diketahui dengan apa yang dihadapinya lewat sintesa pemahaman baru (Freire, 1970: 35-36). Peserta didik membangun pengetahuannya sendiri, sementara fungsi pendidik hanya sebagai fasilitator atau mediator yang membantunya dalam proses pemahaman tersebut (Freire, 1970: 36-37). Prinsipnya, belajar dilakukan melalui refleksi, memecahkan konflik pengertian. Dalam pengertian ini, belajar berarti juga sebagai proses memperbarui suatu tingkat pemikiran yang tidak lengkap (Sutopo, 1997:63).

 

  1. Mengajar adalah belajar (Hal. 104)

Dengan begitu, mengajar ialah praktik mengelola lingkungan agar mendukung proses belajarnya peserta didik. Mengajar, di mata Freire, bukan jenis kegiatan memindahkan pengetahuan dari pendidik kepada peserta didik. Tetapi kegiatan yang memungkinkan peserta didik menciptakan sendiri pengetahuannya dan menyadari realitas diri serta lingkungannya. Mengajar berarti partisipasi dengan peserta didik dalam membangun pengetahuan, mencari makna, bersikap kritis, dan menyusun justifikasi. Jadi mengajar bagi Freire adalah sebentuk proses belajar itu sendiri (Freire, 1979: 48).

 

  1. Kurikulum (Hal. 109)

Bagi Freire, kurikulum yang bertolak dari realitas konkret peserta didik serta berdasarkan atas prinsip-pinsip yang dinamis, bukan pola-pola yang statis (seperti dalam pendidikan sistem bank), adalah mutlak bagi proses pendidikan yang sejati yang membebaskan. Apa yang dibutuhkan peserta didik dari kurikulum yang baik adalah muatan kurikulum yang mampu menumbuhkan kesadaran kritis. Artinya, kurikulum dapat mendorong perkembangan pola pikir dan kemampuan refleksi peserta didik (Freire, 1979: ix). Inilah yang dimaksud Freire dengan perlunya suatu experience-centered curriculum dalam sistem sekolah. Yaitu kurikulum yang mengutamakan pengalaman dan menekankan pada aspek-aspek personal tertentu.

Bagikan Postingan Ini! 😊

MASUK / DAFTAR

Mulailah Berkarya!
Lupa Kata Sandi? Klik Disini atau Buat Akun Baru
=
Masuk dengan akun lain

Video Kontributor

Media Patner

Hosting Unlimited Indonesia




Note:

Sebagian hasil dari penggunaan layanan dan produk Starla Education akan didonasikan untuk LKSA/Panti Asuhan Roisus Shobur. | Kamu juga bisa ikut langsung berdonasi melalui kitabisa.com/pesantrensosial