Review Buku

Resensi Buku: Hipnotis Lawan Bicara Karya Yoga Pratama

Judul: Hipnotis Lawan Bicara

Penulis: Yoga Pratama

Penerbit: Real Books

Cetakan: 2015

MENJADI LAGU

Diakui atau tidak, dalam perjalanan hidupnya, manusia sebenarnya sedang berada dalam perjalanan memenuhi kebutuhan. Manusia merangkak dari satu kebutuhan ke kebutuhan yang lain, bahkan ada manusia yang dengan tragis sedang terjebak dalam kerangka kebutuhan yang itu-itu saja, dan itu adalah kategori hidup yang susah.

Tumbuh-kembang seorang individu misalnya, ternyata juga dipengaruhi oleh kondisi pemenuhan kebutuhan yang sedang dialaminya. Seseorang yang masih berkutat pada pemenuhan kebutuhan ‘fisiologis’ seperti kebutuhan akan sandang, pangan, dan papan tentu sangat berbeda tumbuh-kembangnya dengan seseorang yang sedang berkutat pada pemenuhan kebutuhan ‘keamanan dan keselamatan’. Pertumbuhannya secara fisik bagi seseorang yang masih dalam permasalahan ‘fisiologis’ tentu tidak semakmur seseorang yang sudah berada di permasalahan kebutuhan ‘keamanan dan keselamatan’; mereka (berkebutuhan fisiologi) sudah bisa dipastikan masih bermasalah dalam kualitas gizinya, kualitas lingkungan bahkan pada masalah terkecil semisal pemenuhan hajat buang air besar dan kecil masih menjadi problem. Maka dari itu, jika dari pertumbuhan sudah bisa dilihat perbedaannya, tentu saja dalam hal perkembangan psikologinya juga demikian berbeda; latar belakang hidup yang mewarnai—dan salah satunya juga ditentukan oleh kebutuhan fisik—tentu saja akan memberikan bias terhadap sikap, perilaku, pola pikir, dan spirit atau motivasi seseorang.

Teori yang disusun oleh Abraham Maslow tentang hirarki kebutuhan dasar manusia ini sangatlah membantu untuk mendorong diri atau memotivasi supaya segera bergerak dan tidak diam menunggu uluran tanga orang lain demi kebutuhan diri sendiri. Teori tersebut berurutan dari dasar yaitu kebutuhan fisiologis, rasa aman, rasa memiliki, cinta kasih, kehormatan, harga diri, aktualisasi diri dan transendensi diri. Dan berdasar teori ini, dalam perkembangannya, paling tidak dapat menumbuhkan kesadaran di sisi lain bahwa “memberi” sama pentingnya dengan “menerima”; sehingga ketika kebutuhan akan cinta kasih belum terpenuhi misalnya, maka seseorang harus berusaha memberikan cinta kasih terlebih dahulu kepada orang lain. Dengan kata lain, timbul kesadaran akan perputaran sebab-akibat, stimulus-respon, aksi-reaksi dalam hidup secara natural nan alami. Ketika kamu “memberi”kan kasih sayang, secara otomatis dan natural kasih sayang akan datang menghampirimu. Anda akan “menerima” sebagaimana anda “memberi”, automatically.

Hirarki kebutuhan ini juga ikut nangkring dalam pembahasan bagaimana membuat orang lain mau melakukan apa yang diperintahkan. Buku yang disusun oleh Yoga Pratama ini mengutip Dale Carniege yang mengungkapkan, “Satu-satunya cara di bumi ini untuk memengaruhi orang lain adalah bicara tentang apa yang diinginkannya dan menunjukkan kepadanya bagaimana cara mendapatkannya.” Yang dengan demikian, jika dikaitkan dengan hirarki kebutuhan tadi maka mengetahui kondisi atau posisi seseorang dalam fokus kebutuhannya adalah hal penting dalam memberikan instruksi atau memengaruhi orang lain. Kebutuhan dasar tentu saja menjadi motivasi seseorang dalam bergerak dan mengerjakan sesuatu, sehingga seseorang akan dapat dengan mudah jika sudah dapat menyelami motivasi seseorang yang sedang ingin dipengaruhinya untuk kemudian membuatnya bergerak dan mengerjakan sesuatu. Selami motivasinya (yang diinginkan) kemudian tunjukkan cara menyelesaikannya! Begitulah kira-kira maksud Carniege tadi.

Over all… Buku yang berjudul lengkap Hipnotis Lawan Bicara Agar Lawan Bicara Selalu Menjawab “Ya” Untuk Anda, merupakan buku yang syarat dengan proses upgrade diri sendiri, memperbaiki diri, mengaktualisasikan diri menjadi lebih dan lebih dari waktu ke waktu, dapat menyelesaikan permasalahan diri sendiri, dengan kata lain ‘anda telah selesai dengan permasalahan diri anda sendiri’. Karena logikanya, tidak mungkin anda dapat mempengaruhi orang lain jika anda tidak baik terlebih dahulu dan selesai dengan diri anda sendiri, tidak dapat menyelesaikan masalah anda sendiri. Anda akan kelihatan mentah jika berbicara sesuatu namun anda belum atau masih bermasalah dengan sesuatu tersebut, dan dijamin omongan anda tidak akan diterima karena itu hanyalah omong kosong.

Maka dari itu, di awal-awal pembahasan buku ini diulas tentang tips bagaimana menjadi pemimpin yang baik untuk diri sendiri terlebih dahulu sebelum memimpin dan memengaruhi orang lain. Pembaca disarankan untuk menaklukkan diri sendiri sebelum menaklukkan orang lain. Memipin diri sendiri memang terlihat mudah, akan tetapi sebenarnya tingkat kesulitannya lebih tinggi bila dibandingkan dengan memimpin orang lain. Hal ini terjadi karena saat memimpin diri sendiri, ada kecenderungan tidak tegas dalam menerapkan segala peraturan yang telah dibuat bagi diri sendiri. Terlebih lagi, saat membuat sebuah pelanggaran dan hanya diri sendiri ini yang tahu, bisa dipastikan sanksi tidak akan berlaku. Ketidaktegasan dan ketidakjelasan dalam memberikan sanksi bagi diri sendiri inilah yang membuat banyak orang gagal memimpin dirinya sendiri. Kalau memimpin diri sendiri saja gagal, bagaimana mau memimpin atau memengaruhi orang lain? Sekali lagi itu omong kosong.

Buku ini juga memberikan ulasan secara mendasar tentang bagaimana anda dapat menaklukkan diri sendiri, yaitu melalui ‘pikiran’. Biasakanlah mengontrol pikiran, berpikir yang baik-baik, menghadirkan good vision dalam pikiran, karena you are what you think, kamu adalah apa yang kamu pikirkan. Selain itu juga, “Manusia adalah magnet. Dan setiap detail peristiwa yang dialaminya datang atas daya-tarik (undangan)nya sendiri.” (Elizabeth Towne)

Sehingga, sesuatu yang seseorang alami, itu sesungguhnya akibat dari seseorang tersebut telah menarik sesuatu yang sedang dialaminya tersebut melalui pikiran. Saat kita sedang mengingat masa lalu, menyaksikan yang sedang terjadi, atau membayangkan sesuatu di masa mendatang, maka dengan sendirinya pikiran-pikiran kita itu akan langsung bergerak memanggil semua hal yang serupa dengan sifatnya untuk hadir. Itu artinya, apa yang kita pikirkan terjadi, pasti terjadi (hal. 9). Dan hal beginian, biasa disebut dengan hukum tarik-menarik, dan pikiran kitalah yang menjadi titik tolaknya.

Hukum tarik-menarik ini berlaku secara otomatis. Ia tidak akan menanyakan kepada kita apakah kita suka atau tidak. Melalui hukum ini, kita akan menarik apa pun yang paling sering muncul dalam pikiran kita. Jika kita memikirkan apa yang kita suka, maka hidup kita akan dipenuhi dengan hal itu. Begitulah, dunia ini pada hakikatnya merupakan cerminan atas apa yang kita pikirkan. Oleh karenanya, mulailah menghadirkan pikiran yang baik terlebih dahulu, mengendalikan pikiran agar supaya selalu positif, menjadi menarik sejak dalam pikiran; karena jika itu semua sudah berhasil dilakukan, maka terkait memimpin yang tanda kutip mempengaruhi orang lain adalah persoalan waktu saja. Pikiran yang menarik akan secara otomatis mengundang dan menarik apa pun di sekitar, termasuk orang yang hendak dipengaruhi.

Selain itu, kata Socrates, “Dengan pikiran, seseorang bisa menjadikan dunianya berbunga-bunga atau berduri-duri.” Itu artinya, pikiran merupakan titik tolak seseorang bersikap terhadap hidupnya, dengan kata lain pikiran adalah sumber pendorong perilaku, sikap, dan hasil yang kita dapatkan. Pikiran akan selalu berbanding lurus dengan sikap yang ditimbulkan, bahkan sikap-perilaku bisa dikatakan sebagai kepanjangan tangan dari pikiran. Jika kita sudah awesome sejak dalam pikiran, kemudian diteruskan secara otomatis oleh sikap dan perilaku kita terhadap lingkungan sekitar, maka hal demikian akan menarik dan mengundang segala sesuatu untuk dekat dengan kita, termasuk juga orang lain. Sehingga, menaklukkan diri sendiri sebelum menaklukkan orang lain tentu saja merupakan pernyataan yang sangat logis; anda perlu modal untuk menarik orang lain, dan modal itu adalah diri anda sendiri.

Hal unik dari buku ini adalah ulasan tentang hipnotis itu sendiri. Melalui narasi yang akrab, juga menggunakan bahasa sehari-hari, kemudian pola penulisannya yang menggunakan pola obrolan seolah sedang berbicara langsung dengan pembacanya; buku ini sukses membuat ‘hipnotis’ tidak semenakutkan sebagaimana terdengar dari kasus di jalan-jalan ramai itu. Hipnotis bukanlah sesuatu yang selalu dikonotasikan dengan hal-hal negatif yang selalu akrab dengan orang-orang tak bertanggung jawab. Hipnotis justru adalah sesuatu yang sangat dekat dengan semua orang, hampir dilakukan oleh semua orang, baik ketika sedang berinteraksi dengan orang lain atau sedang sendirian.

Hipnotis sejatinya adalah komunikasi yang berhasil. Jika anda misalnya berinteraksi dengan orang lain, kemudian komunikasi tersebut berhasil dalam ukuran dan takaran tertentu, maka komunikasi tersebut bernama hipnotis. Atau juga ketika anda sedang berinteraksi dengan diri anda sendiri, sedang meyakinkan diri, misalnya berusaha membawa diri kepada hal yang dikehendaki dan itu berhasil, maka hal tersebut juga dinamakan hipnotis. Sehingga pada titik tertentu, hipnotis juga tak ubahnya sebuah proses untuk menjadi pribadi yang lebih baik; karena bila anda mengetahui cara menuju kondisi terkonsentrasi (hipnotis) atau memengaruhi, maka anda juga akan bisa menghipnotis diri anda sendiri menjadi lebih baik.

Berdasarkan uraian di atas maka tips yang paling dasar untuk melakukan hipnotis adalah memahami diri sendiri terlebih dahulu, mengetahui apa yang menjadi motif dari diri sendiri dalam melakukan komunikasi dengan orang lain. Setelah itu, di sisi lain, perlu dicari tahu juga apa yang sedang dialami orang lain, apa yang sedang dibutuhkan oleh orang lain, bagaimana kondisinya, perlu diselami bagaimana perspektif orang lain pada momen komunikasi itu terjadi. Dengan kata lain, hipnotis adalah sebuah usaha menyelami perspektif orang lain, kemudian mengikuti arus perspektif tersebut dan perlahan tapi pasti kita mulai bersimpati terhadap perspektif tersebut, ikut merasakannya, sampai pada akhirnya kita menitipkan sesuatu yang hendak kita sampaikan.

Buku yang diterbitkan oleh Real Books pada tahun 2015 ini juga memberikan tips-tips bagaimana melakukan hipnotis, tanda kutip menyelami perspektif orang lain tadi melalui alam bawah sadarnya. Di dalamnya disebutkan tentang menciptakan kesan pertama yang menggoda, menciptakan kesesuaian, ramah dan santu, membiarkan diri masuk dan terikat dengan orang lain, dan menghindari perbuatan-perbuatan yang kiranya negatif. Termasuk juga bagaimana membaca kondisi seseorang melalui gesturnya, gerak-geriknya, yang dengan demikian dapat membantu sekali untuk melancarkan komunikasi yang pas dengan lawan bicara.

Terakhir, mari disimpulkan; bahwasanya pada hakikatnya hipnotis adalah laiknya menjadi sebuah lagu yang pas bagi setiap pendengarnya, lagu yang tepat dengan kondisi hati pemirsanya. Kemudian, dengan menjadi lagu yang pas itulah perlahan tapi pasti akan secara efektif mengundang jiwa-jiwa yang telah suit dan in tadi untuk ikut berdendang, menari, hanyut dalam irama syahdu. Dan seperti lagu seperti umumnya, sudah pasti ada liriknya, dan melalui lirik itulah kita menyampaikan pesan-pesan, dan tentu pesan itu akan sangat membekas, melekat, dan dekat.

Jika sudah demikian, keberhasilan mempengaruhi orang tinggal menunggu waktu saja.

Bagikan Postingan Ini! 😊

MASUK / DAFTAR

Mulailah Berkarya!
Lupa Kata Sandi? Klik Disini atau Buat Akun Baru
=
Masuk dengan akun lain

Video Kontributor

Media Patner

Hosting Unlimited Indonesia




Note:

Sebagian hasil dari penggunaan layanan dan produk Starla Education akan didonasikan untuk LKSA/Panti Asuhan Roisus Shobur. | Kamu juga bisa ikut langsung berdonasi melalui kitabisa.com/pesantrensosial