Review Review Buku

Resensi Buku: Formasi Nalar Arab – Muhammad Abed Al-Jabiri

Judul : Formasi Nalar Arab

Penulis : Muhammad Abed Al-Jabiri

Penerbit : IRCiSoD

Cetakan : 2014

 

Hal pertama yang perlu saya ungkapkan di sini adalah saya perlu merekomendasikan diri saya sendiri untuk membaca ulang buku yang ditulis oleh Muhammad Abed Al-Jabiri ini. Buku terbitan IRCiSoD ini menyajikan kajian yang sangat komplek dan rinci; dimana suatu isu tertentu misalnya bisa dijabarkan melalui beberapa pembahasan melalui hadirnya ragam fakta historis yang melatarbelakanginya. Jujur saja, saya butuh satu semester untuk membaca buku dengan ketebalan lebih dari 500 halaman itu.

Yang menarik dari buku ini adalah analisisnya yang sangat mengena terkait kebangkitan Islam serta refleksi atas kegagalan kebangkitan Islam itu sendiri. Analisa Al-Jabiri terkait itu sangat membuat saya kaget; dalam artian saya bahkan tidak sampai terpatri dalam benak untuk sampai pada analisa macam begitu apalagi kesimpulannya. Al-Jabiri menghadirkan analisa dan kesimpulan yang tak pernah saya prediksi sebulumnya.

***

Buku ini menghadirkan fakta-fakta yang memuluskan jalan kepada kesimpulan bahwa Islam terpuruk justru diakibatkan oleh sejarahnya sendiri, terutama tentang penetapan historisitas kultural atau historiografi kebudayaannya. Penetapan atau klasifikasi sejarah pada Islam tidak didasarkan pada abad (dan jika itu ada, maka sebenarnya itu hanya kepura-puraan) melainkan pada era kekuasaan. Memang benar adanya jika ada pemisahan dalam sejarah Islam antara era jahili, era Islam dan era kebangkitan; namun sejatinya klasifikasi tersebut sungguh sangatlah superfisial. Tidak tampak darinya sebagai era-era yang memberikan pemahaman tentang tahap-tahap perkembangan, bahkan parahnya masing-masing era-era tersebut memiliki karakter yang khas sehingga tidak menampilkan kesinambungan atau saling berhubungan; dengan kata lain malah menyajikan keterpisahan satu sama lain dan berdiri sendiri.

Keterpisahan dan karakter yang berdiri sendiri ini sebagai konsekuensinya melahirkan kebingungan ketika hendak melakukan refleksi terhadapnya, melahirkan anggapan bahwa klasifikasi era Islam itu tadi berdiri sejajar dan bukan yang satu melahirkan yang lain. Dengan kata lain, ini akan mengacaukan mekanisme ‘berpikir dasar’ ketika kita membaca sejarah Islam; kita tidak bisa lagi melakukan proses berpikir sederhana semisal “lebih besar”, “lebih kecil”, “lebih dulu”, “sama”, “sebelum”, “sesudah”, “di bawah”, “di atas”, “sebab”, “akibat” dan seterusnya. Misalnya, ketika kita membaca era Islam dan era kebangkitan; kita akan diseret kepada kebingungan dimana kita tidak mampu untuk memisahkan keduanya, mana yang lebih dulu, mana yang setelahnya, mana sebab, mana akibatnya.

“Ketumpang-tindahan era kultural”. Begitu Al-Jabiri menyebutnya. Dimana ketika seseorang membaca sejarah Islam, ia tidak sedang merasa berpindah dari era ke era yang lain melainkan sekedar meloncat dari satu tempat ke tempat lain: dari kepulauan Arab (Ka’bah) ke Baghdad (Abbasiyah) ke Kairo (Fathimiyah) ke Kordoba dan Fas (Almohad), ke Mesir Muhammad ‘Ali At-Tahtawi dan Lutfi Sayyid atau ke kepulauan Ibnu Badis, dan seterusnya. Hal ini menandakan bahwa penulisan sejarah Islam tidak ubahnya kepulauan-kepulauan kultural yang sungguh sulit untuk dicari hubungan keterkaitannya, sebab-akibatnya, dan tentu saja refleksi perkembangannya.

Masalah ini juga merembet pada produktifitas pemikiran Islam. Karena secara tidak langsung “ketumpang-tindihan” itu tadi juga akan mengaburkan antara realitas lama dan realitas baru, antara konsep lama dan konsep baru. Kedua realitas tersebut, di dalam sejarah Islam, hadir secara bersamaan di dalam pikiran; kadangkala bertentangan dan kadang pula berdampingan. Konsekuensi lanjutannya, produktifitas pemikiran Islam mulai bertemu dengan kemandegan; sejarah yang tidak mampu menampilkan atau memisahkan antara yang ‘sebelum’ dan ‘setelah’ akan menciptakan keruetan untuk berorientasi ke masa depan. Dengan kata lain, apa yang hendak kita jadikan refrensi untuk melangkah ke masa depan sedangkan refrensi sejarahnya masih amburadul terkait urut-urutannya, tidak jelas mana yang lama mana yang baru, mana yang sebab dan akibat.

Kita akan bingung, masa lalu mana yang hendak kita adopsi dari sekian masa lalu Islam itu; masa lalu mana yang hendak kita kritisi kemudian kita sempurnakan dengan tujuan dapat dijadikan solusi dalam permasalahan kontemporer; masa lalu yang mana? Masa lalu yang tidak pernah jelas sebab-akibatnya itu? Masa lalu yang tiba-tiba saja ada tanpa jelas asal-usul yang mendahuluinya dan juga tidak jelas apa implikasi terhadap masa setelahnya. Ya, Islam sering berkontemplasi dengan sejarah yang tidak jelas begitu; sejarah yang kesemuanya berdiri sejajar.

Mari berikan kontrasnya, ketika kita mencermati Eropa dalam penetapan historisitas kulturalnya; Eropa menetapkannya berdasarkan hitungan abad dengan bertolak dari lahirnya Isa: pemikiran Yunani pada abad 4 SM, kemudian pemikiran Perancis dan Jerman atau Eropa pada umumnya pada abad 18 M. Berdasarkan hal itu, sejarah Eropa menampilkan rajutan kontinuitas antara tahapan-tahapan perkembangan Eropa. Mari kita berikan ilustrasinya: mulai saja dari Galileo (1564-1642), yang memang telah bertekad untuk membangun ilmu berdasar pengalaman; melalui temuannya ilmu dan teknis secara terus menerus dan tanpa henti terjadi relasi dialektis, relasi saling memberi dan menerima. Galileo bersama empiriknya ini (pada perkembangannya) ternyata memberikan pengaruh terhadap pengetahuan, terhadap filsafat Eropa yang sebelumnya masih bertolak pada ketuhanan; memberikan pengaruh pula kepada sosok yang bernama Descartes di kemudian hari untuk melahirkan corak filsafat yang sama sekali baru. Descartes kemudian memberikan landasan ilmu kepada filsafat ketuhanan berupa landasan matematika dan fisika. Setelah Descartes, muncul kemudian filsafat empirik lagi dari Inggris yang secara langsung berkaitan dengan ilmu, dan dengan rasionalitas Leibniz yang menimba filsafat atom spiritualnya dari konsep-konsep yang ada saat itu seputar mikroba dan lainnya. Dan terus seperti itu, memberikan gambaran jelas tentang sebab-akibat dalam sejarah; menampilkan refleksi perkembangan pemikiran yang dari waktu ke waktu dapat dilacak kontinuitasnya.

Namun, kita tidak dapat menemukan hal demikian dalam sejarah Islam. Dalam sejarah Islam tidak ditemukan perkembangan pemikiran dari waktu ke waktu, tidak dapat menampilkan sambung-menyambung pemikiran yang ketika kita membacanya di masa sekarang kita dapat menarik benang simpul bahwa kunci perkembangannya adalah bla-bla-bla; dan kita dapat mencoba menerapkannya dalam kehidupan dewasa ini. Sejarah Umayyah misalnya, dipaparkan begitu saja kemudian selesai begitu saja; Abbasiyah terpapar dalam halaman sejarah dan selesai tanpa ada ulasan bagaimana hubungan sebab-akibat dengan kondisi sekitar; Fatimiyah demikian juga; dan lain sebagainya.

Tidak berbeda dengan sejarah Eropa, sejarah yang menampilkan kontinuitas juga terjadi dalam sejarah Yunani. Diawali dengan Tales yang membuka wacana filosofis dengan mempertanyakan unsur yang kepadanya memungkinkan dikembalikannya seluruh bagian alam, dan dia menemukan air sebagai jawabannya. Dari Tales kemudian berkembang kepada tokoh yang bernama Democritos yang menyatakan justru atomlah yang merupakan unsur pertama dari segala sesuatu di alam ini. Berkembang lagi kepada pengikut Phytagoras yang berpendapat bahwa alam ini dibangun berdasar pada keselarasan dan keharmonisan. Berdasarkan hal ini, maka perhatikanlah bahwa dari Tales hingga Phytagoras, sejarah Yunani menampilkan langkah-langkah progresif dalam membangun pandangan umum terhadap alam. Di sejarah Islam, lagi-lagi, tidak ditemukan yang semisal dengannya; yang ada hanyalah sejarah yang terpenggal-penggal dan selesai, tidak ada hubungannya antara satu dengan lainnya. Ia terpenggal oleh sesuatu bernama kekuasaan; artinya sejarah Islam ditulis mengikuti alur kekuasaan, dan tidak menampilkan keterkaitan dengan kekuasaan lain.

Hebatnya lagi dari buku ini adalah, Al-Jabiri menunjukkan usahanya dalam merajut kontinuitas itu. Mencoba merajut sambung-sambungan sejarah Islam—meski masih kurang dari sempurna—yang selama ini kita baca sebagai sesuatu yang terpisah-pisah. Al-Jabiri berusaha mengurai sebab-akibat dari sejarah yang terpotong-potong dan terpenggal-penggal itu. Dan itu sungguh sangat menarik jika dibaca. Bahkan Al-Jabiri mengungkapkan bahwa Al-Makmun tidaklah seperti yang kita bayangkan; selama ini sebagaimana yang kita ketahui Al-Makmun selalu dicitrakan sebagai sosok pemimpin yang sangat cinta ilmu pengetahuan, namun citra begitu tidak berlaku bagi Al-Jabiri. Dalam analisanya, Al-Jabiri justru meklaim Al-Makmun sebagai sosok yang mengumpulkan sekian banyak produk-produk keilmuan Yunani hanya karena latar belakang kepentingan ideologisnya, yaitu kepentingan untuk memerangi aliran sufistik dan gnostik (irfan Syiah). Menarik bukan?

Sampai di sini dapat disimpulkan secara pribadi bahwa sejarah Islam menampilkan sesuatu yang telah selesai dalam prosesnya (be), dan bukan sesuatu yang masih menampilkan proses untuk menjadi sesuatu dalam kesempurnaan (being), sekarang atau di masa datang. Be dalam Islam juga masih dilengkapi oleh masalah lain berupa tercerabutnya konteks yang melatarbelakanginya, ya semisal kasus Al-Makmun itu tadi dimana konteks yang melatarbelakanginya kemudian sirna tercerabut entah oleh siapa dan yang tampak hanyalah permukaan pencitraan dan kepalsuan. Oleh karenanya, jangan heran jika kita dewasa ini sulit menemukan sosok sedemikian rupa semisal Al-Makmun tadi, karena ternyata kita hanya melakukan refleksi terhadap hal yang bernama kepalsuan. Kasarnya, kita sedang dikhutbahi untuk meneladani kepalsuan dan kepura-puraan, dan parahnya hal demikian difasilitasi dan dilegetimasi oleh sejarah kita sendiri.

Tapi meski demikian, harus kita berbunga hati bahwa sejarah peradaban Islam pernah muncul dengan sukses dan menjadi pemimpin dunia pada tingkat kultural. Bahkan, dari sudut pandang ini dapat dinyatakan bahwa Islam pada waktu itu menjadi bidayah al-bidayah (awal permulaan) bagi kebangkitan yang berlangsung di Eropa meski di waktu bersamaan Islam sedang berada dalam kondisi tercekik, yaitu di abad 15. Jika kita hendak mencari padanannya, sebenarnya Islam tidak sendirian dalam perjalanan sejarahnya ini, ada sejarah peradaban lain yang juga gagal dalam melanjutkan era keemasannya, dan itu adalah sejarah Yunani. Setelah Aristoteles, filsafat Yunani kemudian masuk pada fase kemunduran yang berakhir dengan ‘tersingkirnya akal’ dan diganti dengan ‘irrasionalitas’ (gnostis).

Mirip dengan Islam, Yunani mengalami fase kemunduran ini diakibatkan oleh munculnya madzhab yang kurang menaruh percaya terhadap akal (tersingkirnya akal) dan kemudian berpegang kepada sumber-sumber pengetahuan lain berupa intuisi yang dalam istilah Islam adalah irfan; mereka ini adalah aliran skeptik. Dengan demikian, ada unsur eksternal dalam perjalanan sejarah Yunani yang kemudian mempengerahuinya untuk sampai pada sebuah masa bernama kemunduran itu.

Namun, Al-Jabiri memberikan pemaparan lebih lanjut bahwa ternyata faktor eksternal Yunani tersebut bukanlah satu-satunya faktor fase kemunduran, ada faktor internal ternyata yang juga menyertainya. Al-Jabiri mengungkapkan, jika ‘ilmu’ merupakan galah yang menggerakkan filsafat Yunani dan mendorong kemajuan dan pertumbuhannya hingga kemudian bangunan mencapai kesempurnaan dan gaungnya berakhir pada Aristoteles, maka ilmu Yunani ini merupakan ilmu teoritis yang berpegang kepada dialektika rasional semata; yang dengan demikian kesimpulannya adalah filsafat Yunani hanya berkubang pada aktivitas rasional dan jauh dari interaksi bersama empirik-inderawi.

Memang benar, filsafat Yunani masih berangkat dari indera, inspirasi dari pengetahuan inderawi atau pengalaman umum. Namun, cendekiawan Yunani tidak menjadikan muatan informasi indera itu sebagai pemikiran atau konsep dan kemudian dijadikan sebagai titik tolak bagi proses rasional dan selanjutnya membentuk ‘dunia’ baru, dunia filsafat. Dengan kata lain pemikiran cendekiawan Yunani mempunyai jarak dengan ‘pengalaman praktis’ dan hanya menelurkan wacana rasional saja.

Keterpisahan antara aktivitas rasional dan pengalaman praktis (realitas empirik) dalam sejarah Yunani tidak lepas dari realitas masyarakat Yunani itu sendiri, yang merupakan masyarakat ningrat dan budak. Pengalaman atau hubungan langsung dengan pekerjaan alam yang kasar berupa teknik praktis itu dinilai sebagai pekerjaan rendah yang hanya pantas berada di tangan kotor para budak; sedangkan bagi kelompok ningrat, yang layak bagi mereka hanyalah aktifitas yang memiliki nilai lebih tinggi, yaitu berpikir, berteori dan memunculkan wacana. Oleh karenanya, tidak heran jika ilmu-ilmu Yunani kemudian hanya menghasilkan filsafat yang gersang dari sina’ah atau teknik. Filsafat tidak mampu menyediakan perkembangan berupa aplikasi praktis yang biasa berwujud teknik cara kerja; karena cendekiawan enggan membahas sesuatu yang aroma-aromanya adalah aroma budak dan bukan aroma ningrat. Walhasil, teori Yunani yang hanya sebatas teori tanpa bertelurkan praktik itu kemudian mengeras dan bangunan filsafat yang berdiri di atasnya runtuh. Yunani gagal melanjutkan kegemilangan berpikirnya.

Kebalikan dari itu adalah apa yang terjadi dalam sejarah Eropa. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa sudah sejak Galileo, Eropa bertekad membangun ilmu berdasarkan pengalaman, dan membangun pengalaman berlandaskan alat-alat industrial yang secara terus menerus ditingkatkan dan dengan sendirinya ilmu juga semakin berkembang. Demikianlah, bahwa di Eropa antara ilmu dan teknik praktis terus menerus berada dalam siklus dialektis tanpa henti, selalu berelasi yang mana ‘satu’ selalu memberikan corak perkembangan bagi yang ‘lainnya’. Ilmu melahirkan teknik dan teknik memberikan gambaran terkait ilmu baru demi menjawab tantangan dan kemasygulan yang ditemui dalam pengalaman. Terus seperti itu, berputar dalam siklus perkembangan.

Bagaimana dengan Islam? Apakah sebelas dua belas dengan Yunani, dengan ketersingkiran akalnya yang diawali oleh nalar irfan yang pernah disebutkan sebelumnya? Untuk kasus sejarah Islam tampaknya tidak hanya sampai di situ, sepertinya ada hal lain yang menyongsong kegagalan sejarah Islam dalam mempertahankan masa keemasannya. Untuk menjawab hal ini, saya hendak mengikuti alur jawaban Al-Jabiri itu sendiri yang mengelompokkan ragam pengetahuan Arab (Islam) dalam tiga kelompok, yaitu ilmu-ilmu bayan, burhan dan irfan.

Mari mulai dengan bayan yang secara sederhana dapat dijelaskan sebagai interaksi dengan teks-teks. Meski demikian mengagumkannya produk yang dihasilkan oleh nalar bayan ini yang berupa fiqh, nahwu dan bahkan sampai pada perdebatan teologis; namun kita tidak boleh menutup mata bahwa objek kajian ini hanyalah satu yaitu teks: teks-teks linguistik dalam kaitannya dengan bahasa dan nahwu kemudian teks-teks keagamaan dalam kaitannya dengan fiqh dan teologi. Nalar bayan ini menghasilkan produk yang luar biasa secara kuantitas, anda bisa melacaknya di perpustakaan-perpustakaan kemudian lihatlah produk fiqh, anda akan menemuinya berjilid-jilid. Begitu juga dengan nahwu atau gramatika bahasa serta perdebatan teologis Islam, mereka semua akan membuat anda pusing akibat banyaknya aliran-aliran. Bahkan Al-Jabiri hendak mengklaim bahwa nalar bayan ternyata mampu melahirkan ‘peradaban fiqh’ bagi Islam sebagaimana ‘peradaban filsafat’ bagi Yunani atau ‘peradaban ilmu dan teknik’ bagi Eropa. Sungguh membanggakan.

Permasalahan nalar bayan mungkin begini; (1) Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa nalar bayan hanya mempunyai satu objek, yaitu teks semata. Bayan hanya berinteraksi dengan teks, dan tentu saja interaksi semacam itu sama sekali berbeda dari berinteraksi dengan realitas alam. Jika bersama wilayah alam praktis, akal manusia tentu bisa menemukan kemungkinan-kemungkinan lebih untuk terus mencapai kemajuan; sedangkan bersama teks, akal manusia akan terbatas sentuhannya bahkan suatu saat ia akan bertemu dengan kebuntuan, tidak bersua dengan kemungkinan-kemungkinan kemajuan, yang ada justru hanya pengulangan dan penataan kembali. (2) Nalar bayan menghadapi sebuah sandungan bernama ‘daur ulang’ terlebih setelah pintu ijtihad ditutup dan madzhab hanya dikerucutkan kepada imam yang empat. Nalar bayan tidak lagi produktif, ia hanya sekadar daur ulang dari hasil ijtihad empat madzhab tadi dan apa pun yang lahir dari nalar bayan setelahnya hanyalah penampakan pemikiran yang beku dengan taqlid yang umum.

Kemudian sekarang tentang nalar irfan. Tentang yang satu ini jelas sudah bahwa ia merupakan ‘aql al-mustaqil atau ketersingkiran akal itu sendiri, dan karenanya ia tidak perlu pembahasan yang cukup panjang. Metode dan tujuan dari ilmu irfan ini bukanlah dunia melainkan akhirat. Bahkan disiplin ilmu yang ditelurkannya adalah ilmu-ilmu mistik; ya memang ada sebagian disiplin ilmu yang bersumber darinya dan bersifat duniawi semisal kimia, astrologi, kedokteran dan lain-lain, namun kesemuanya itu bersumber dari pandangan mistik terhadap alam. Dengan kata lain, ilmu-ilmu tersebut didasarkan pada pandangan mistik terhadap alam. Sampai di sini, saya baru tahu bahwa ada fakta yang menyatakan bahwa fisika dan kedokteran justru lahir dari rahim mistik begini. Mengejutkan.

Sedangkan burhan adalah hal yang berbeda, bahkan Al-Jabiri menyebut dalam kesimpulannya bahwa burhan ini merupakan posisi dimana bertempat ‘ilmu Arab’ itu sendiri. Ada dua aktivitas ilmiah yang harus dibedakan dalam ilmu burhan, yaitu: (1) aktivitas teoritis yang secara keseluruhan berada dalam sistem Aristotelian namun bergerak di bawah arahan-arahannya (arahan burhan), dengan kata lain sistem Aristotelian berada dalam kontrol nalar yang khas Islam; dan (2) aktivitas ilmiah-teoritis yang kurang lebih bergerak di luar sistem Aristotelian.

Mungkin terlebih dahulu perlu diungkapkan dalam hal ini tentang pra-analisis Al-Jabiri terkait dua aktivitas ilmiah yang berbeda itu. Bahwa dalam kebudayaan Arab, penerimaan terhadap sistem Aristotelian tidak seperti yang terjadi di Eropa Kristen; pemegang otoritas refrensial keagamaan Islam (fuqaha’) memiliki model penalaran yang khas sehingga tidak membutuhkan penalaran atau teknik reasoning yang lain. Oleh sebab itu, ketika ilmu-ilmu yang berasal dari luar (sistem Aristotelian) dan masuk ke dunia Arab, semua itu berlangsung bukan semata-mata karena ilmu itu sendiri, bukan pula karena hendak merekonstruksi pemikiran keagamaan Islam melalui ilmu itu, melainkan untuk sekedar memanfaatkannya untuk memerangi irfan. Al-Jabiri berbicara panjang lebar untuk masalah ini. Dan inilah yang dimaksud dengan aktivitas teoritis pertama dimana Aristotelian bergerak di bawah arahan-arahan.

Sedangkan aktivitas ilmiah empirik kedua dan berlangsung di luar sistem tadi justru merupakan aktivitas yang murni ilmiah, dan bahkan memiliki tingkat kematangan dan kemajuan yang luar biasa. Kemajuan dari aktivitas ilmiah ini telah melahirkan tokoh-tokoh yang membanggakan, semisal tokoh aljabar Arab mulai dari al-Khawarizmi hingga Sumaeil al-Maghribi yang merumuskan metode “analitika dan himpunan” dalam bentuk yang sangat matang; selain itu ada Ibn Haitam yang melakukan induksi ilmiah di samping pandangan-pandangannya tentang ilmu optik dimana para ilmuan Eropa menghabiskan waktu yang lama untuk mengkajinya; belum lagi dengan prestasi-prestasi ilmiah dalam ilmu falak yang ditampilkan oleh Albiruni, al-Batani, al-Bathruji dan lainnya. Namun perlu dicatat, bahwa ilmu-ilmu Arab ini sejak permulaan hingga akhir berada di luar layar pertarungan dalam kebudayaan Arab. Ilmu-ilmu tersebut bebas dari pihak-pihak yang saling berseteru, tidak dengan agama dan tidak pula dengan filsafat.

Untuk memperkuat analisis aktivitas ilmiah empirik kedua tersebut Al-Jabiri menyajikan fakta terkait peradaban Islam yang tidak pernah mengalami (semacam) perburuan dan penghakiman ilmuannya seperti yang dialami oleh para ilmuan di Yunani kuno atau di Eropa modern yang disebabkan oleh pandangan-pandangan ilmiah mereka. Dalam sejarah Islam tidak ditemukan sebagaimana apa yang menimpa karya-karya Kepler (1571-1630), orang yang memutuskan hubungan dari kutub ketuhanan pada masanya karena penegasannya terhadap teori Copernicus yang menyatakan bahwa matahari diam dan bumi mengelilinginya. Hal serupa juga dialami oleh Galileo (1564-1642) karena kebulatan tekad yang serupa. Sedangkan dalam Islam, sekalipun ada pemikiran demikian atau bahkan munculkanlah penemuan yang menyatakan bahwa bumi itu segitiga dan orbit juga segitiga sudah bisa dipastikan tidak ada reaksi apa pun baik dari kalangan fuqaha’ atau pun para hakim. Sebabnya jelas, pemikiran semacam itu (yang murni ilmiah) berada di pinggiran pertarungan. Yang dimaksud pertarungan pemikiran dalam kebudayaan Arab Islam bukan dimaksudkan untuk meruntuhkan konsep-konsep tentang alam seperti yang terjadi di Eropa dimana kelompok yang berseteru adalah ilmuan di satu sisi dan gereja di sisi lain, melainkan pertarungan dalam kebudayaan Arab Islam adalah pertarungan ideologis politis.

Hal tersebut mempunyai hubungan dengan pembahasan burhan, ia hadir di tengah-tengah dua sistem nalar Arab yang sedang bergesekan, yaitu sistem bayani yang mengusung ideologi sunni dan sistem irfan yang mengusung ideologi syi’ah. Burhan datang di tengah-tengahnya dan dimulai sejak mimpi Al-Makmun. Dengan demikian, sebenarnya kita seharusnya mengakui bahwa dalam sejarah Islam, posisi politik sejajar dengan posisi ilmu, perkembangan pemikiran Arab Islam tidak ditentukan oleh geliat keilmuan itu sendiri secara murni melainkan oleh politik yang bengis itu.

Demikianlah bahwa dalam sejarah Islam, politiklah yang bermain peran dalam mengarahkan pemikiran Arab Islam. Politik dalam sejarah Islam itu sendiri adalah hal yang unik, politik masa lalu bukanlah sekedar sebuah peristiwa, tetapi juga merupakan preseden dan dasar-dasar (ushul) dan selanjutnya orang-orang yang datang setelahnya (khalaf) mewarisi materi pengetahuan kultural dari generasi pendahulunya (salaf). Jika ada dua pihak yang berseteru secara politik, maka di dalam sejarah Islam mereka berdua sama saja, masing-masing ingin merengkuh masa lalu dan memanfaatkannya untuk kebaikannya sendiri, dan memanfaatkan pengetahuan sebagai legetimasi.

Sampai di sini dapat diungkapkan bahwa keterpurukan Islam dalam perkembangan pemikirannya selain diakibatkan oleh tumpang tindih penulisan sejarahnya sehingga miskin aktivitas refleksi historis, lalu terlampau fokusnya ia kepada teks (masalah bayan) sehingga mulai kurang memerhatikan pengalaman, kemudian munculnya aktivitas yang menyingkirkan akal itu sendiri (masalah irfan), ternyata ada peran politik yang begitu besar. Bahkan dalam ‘Penutup’-nya, Al-Jabiri memberi judul ‘Ilmu dan Politik Dalam Kebudayaan Arab’, bahwa memang ilmu yang lahir dalam sejarah Islam deras alirannya bersumber dari politik itu sendiri, bersumber dari kepentingan sempit dan berkepentingan. Itulah kiranya yang menyebabkan pemikiran Islam menjadi stagnan dan tidak berkembang, karena ia hanya lahir dari tujuan mulia yang sebenarnya polesan dari kepalsuan hasrat bernama politik. Ilmu bukan murni dari aktivitas ilmiah melainkan hanya pertengkaran idoelogis.

***

Begitulah kiranya yang saya pahami tentang buku ini. Dan barangkali di lain waktu ada pembaca lain yang mempunyai pemahaman berbeda, tentu itu sah-sah saja. Karena memang, saya secara pribadi masih mensyaratkan diri sendiri untuk membaca ulang buku ini agar sampai kepada pemahaman yang tepat sesuai dengan maksud penulisnya. Semoga bermanfaat.

Bagikan Postingan Ini! 😊

MASUK / DAFTAR

Mulailah Berkarya!
Lupa Kata Sandi? Klik Disini atau Buat Akun Baru
=
Masuk dengan akun lain

Video Kontributor

Media Patner

Hosting Unlimited Indonesia




Note:

Sebagian hasil dari penggunaan layanan dan produk Starla Education akan didonasikan untuk LKSA/Panti Asuhan Roisus Shobur. | Kamu juga bisa ikut langsung berdonasi melalui kitabisa.com/pesantrensosial